Yeyeye
Lalala, yeah hari ini adalah hari pertama aku masuk SMA. Wow setelah di MOS
selama satu minggu akhirnya selesai juga. Duh udah nggak sabar buat belajar dan
sekolah di sekolah yang baru. Well, aku sekolah di SMA Tunas Bangsa.
“KRINGGGGG!!!”
suara alarmku bunyi.
*tarik selimut lagi*
“KRINGGGG!!!”
suara alarmku bunyi lagi.
*liat jam, tarik selimut lagi*
“KRINGGG!!!”
suara alarmku bunyi lagi untuk yang ketiga kalinya.
“Aaaaa. Aku telat” teriakku. Pada
saat itu jam menunjukan jam 6.30 pagi.
Langsung
saja aku pergi mandi dan langsung ganti baju dengan seragam SMA baruku. Suasana
kamar begitu berantakan so, aku harus beresin dulu. “Bodo amatlah mau rapi atau
nggak dari pada telat” pikirku.
“Nek, aku berangkat dulu yaa!”
teriakku.
“Nggak sarapan dulu Tas?” Tanya
nenekku.
“Nggak Nek, Tasya udah telat nih.
Dah nenek” sambil cium tangan nenek.
Dijalan..
Mana Busway penuh, terpaksa nunggu. Udah telat begini, ya sudahlah pasrah aja.
Nggak lama Busway datang, dan aku langsung masuk ke dalem Busway itu. “ini
Busway kok parah banget sih? Tumben banget penuh” Tanyaku dalam hati. Karena
penuh, aku pun berdiri.
Tiba-tiba
ada yang menepuk pundakku..
“Hey!” sapanya.
“Eh” kataku kaget.
“Maaf ya kamu siapa?” Tanyaku
lagi.
“Kamu anak SMA Tunas Bangsa ya?”
sambil liat logo sekolahku.
“Iya, maaf kamu siapa ya?”
Dia
nggak jawab dan cuma senyum, aku pun
bingung karena dia pake seragam SMA tapi karena pake jaket jadi nggak keliatan
sekolah mana Tampangnya sih lumayan coganlah. Tapi yaudahlah nggak usah
dibahas. Dan tiba-tiba dia udah nggak ada disamping aku lagi. Sosok yang penuh
misterius.
Sampai disekolah…
Baru
lewatin gerbang sekolah, tiba-tiba bel udah bunyi gitu aja. Aku pun langsung
lari pontang-panting nyari kelas X-6. Untung saja ketika aku masuk kelas itu
belum ada guru yang masuk. Aku melihat orang yang tadi di Busway. Tempat duduk
hampir penuh dan aku segera mencari tempat duduk yang nggak begitu di depan dan
nggak terlalu belakang. Orang misterius tadi duduk di depan, tapi dia nggak
duduk deket aku. Akhirnya wali kelas pun datang, wali kelasku perempuan yang
bernama Miss Catherine atau Miss Katy. Dia orang Indo, penampilannya menarik
dan dia juga cantik. Miss katy pun langsung menyuruh anak-anak untuk
memperkenalkan diri.
Dan
tiba saat pada anak misterius itu untuk memperkenalkan diri.
“Pagi, nama saya Reuben Nathaniel
panggil aja Reu. Saya berasal dari SMP Regina Pacis” Katanya.
“Oh, jadi nama dia Reuben. Dia
manis juga” pikirku. Dan tiba saatnya aku yang perkenalkan diri.
“Selamat pagi semuanyaJ. Nama saya Tasya Hira,
panggil aja Tasya. Saya berasal dari SMP Kesatuan” kataku. Ketika aku
memperkenalkan diri Reu melihat kearahku dan senyum, tapi senyumnya dia itu misterius.
Miss
Katy pun mengatur denah duduk murid di kelas, ternyata aku duduk sama Reuben. Akupun
langsung menyapanya.
“Oh jadi lo yang tadi namanya
Reu” kataku pada dia.
:) Dia senyum “ iya, kenapa emang itu gw?” tanyanya.
“Nggak kenapa-napa sih!” kataku.
“Lo manis” Katanya pelan.
“Hah? Apa gw nggak denger”
kataku.
“Nggak, udahlah lupain” katanya.
“Ih bilang apa ih? Jangan bikin
orang penasaran deh!” paksaku padanya.
“Bukan apa-apa kok!”
“Ih Reu apa Reu tadi lo ngomong
apa?” kataku mendekat pada Reu.
Tiba –tiba dia menoleh kearahku,
dan wajahku tepat berhadapan dengan wajahnya. Dia melihatku dengan tatapan
misterius itu lagi yang membuatku deg degan. Dan dia hanya tersenyum J dan langsung pergi
dengan temannya.
Pulang sekolah…
“Eh, Tas pulang bareng yuk?” Ajak
temanku yang bernama Sonya.
“Ayo, bentar beresin buku dulu.
Eh iya, Reu gw pulang duluan ya! Dah” Kataku.
“Iya, dah juga Tas” jawabnya
sambil tersenyum. J
~
Pada suatu hari, setelah
berbulan-bulan aku bersekolah di SMA
itu. Tiba-tiba ada yang menyapaku.
“Pagi Tas!” Sapa seseorang yang
tak ku kenal suaranya.
“Iya, pagi juga. Maaf siapa ya?”
tanyaku padanya.
“Hehe, gw kakak kelas lo. tau
nggak gw yang mana?”
Aku diam sejenak untuk mengingat
kalau dia ini siapa.
“Hmm, gw nggak inget kak! Hehehe
maklum gw agak pelupa” jawabku.
“Wah, kudu di MOS lagi nih, haha.
Masa nggak inget sama kakak kelas lo yang pernah jailin lo waktu MOS?!”
katanya.
“Oh, hahaha iya baru inget gw. Oh
lo kak, Kak Audrian kan?”
“Wah, baru inget lo. Kemana aja
mbak?” katanya.
“Hahaha, yaampun kak maklum kek
gw rada amnesia sesaat gitu!”
“Ceilah gaya banget bahasa lo,
ngomong-ngomong dapet kelas berapa lo? “
“X-6 Kak” jawabku.
“Wah, hahaha sabar ya lantai 3.
Tiap hari olahraga nih, tapi bagus lah supaya lo kurus.” Katanya meledek.
“Wah, anjiir ya si Kakak. Gw
nggak gendut kak, udah sexy begini gimana sih.” jawabku dengan nada bercanda.
Ketika sedang asyik mengobrol
dengan Kak Audrian, tiba-tiba Reu lewat dan melihat dengan sinis dan langsung
pergi. Aku bingung melihat tingkah laku Reu.
Sesampainya di kelas..
“Hey, tadi sinis banget sih!”
Kataku.
“Apa? Tadi? Lo liat gw Tas?”
tanyanya kaget.
“Yaiyalah Reu, lo segede gitu
masa gw kaga liat, wah parah banget lo.”
“Hmm, tadi ya. Hahaha ga apa-apa
kok, emang gitu kali tampang gw.” Jawabnya.
“Masa sih tampang lo gitu?
Menurut gw lo cukup manis. :)”
kataku.
“Hah? Nggak salah denger nih?”
tanyanya padaku.
“Hmm, nggak jadi deh gw ralat
deh!”
“Yaelah, dasar labil.” Katanya.
Saat
pelajaran Biologi di lab, aku dan Reuben kebagian mikroskop berdua, maklum
mikroskop di sekolahku cuma ada 15 dan murid di kelas cuma ada 25 orang.
“Eh, Reu ini bentuk otot binatang
atau tumbuhan sih?” Kok gw bingung.
“Ini tumbuhan” jawabnya singkat
dan sibuk dengan mikroskopnya.
“Oh, gitu.. Kalau yang ini apa? “
tanyaku lagi.
“Padi.”Jawabnya lebih singkat.
“Bebep Reu kamu kenapa?” tanyaku
dengan heran.
“Apa bebep-bebep!” jawabnya
dengan nada suara membentak.
Seketika aku terdiam, dan tak
berbicara lagi. Dan setelah keluar lab.aku langsung saja berganti pakaian dan
bergegas ke ruangan kelas. Dan Sonya bertanya kepadaku.
“Lo kenapa Tas, kok kayak yang
ketakutan gitu?”
*menangis*
“Ih lo kenapa tas? Ceita sama gw,
lo ada masalah?” tanyanya heran dan kebingungan melihatku menangis tiba-tiba.
*masih menangis*
“Tenangin diri dulu deh, kalo lo
udah tenang baru cerita. Tarik nafas, buang pelan-pelan ya!”.
Aku pun mengikuti perintah Sonya.
“Udah baikan Tas?”tanyanya
padaku.
“Hmm, udah.” Jawabku.
“Yaudah, mau cerita nggak?” Tanya
Sonya.
“Iya, jadi tadi pas di lab.aku
nanya sama Reu, dia jawab tapi singkat banget. Nah kan udah gitu aku nanya dia
kenapa? Eh, dia jawab kayak ngebentak gitu. Apa aku salah ya Son?” Tanyaku pada
Sonya.
“Ya nggak lah, gw bingung sama
itu orang ganteng sih tapi sayang agak aneh sama misterius gitu. Yaudah lo
jangan nangis lagi Tas, be strong beib!” sonyapun menenangkanku.
Tiba-tiba Reuben datang dan
memberi isyarat pada Sonya, dan Sonya pun meninggalkan kami berdua. Ketika itu
sore hari jam 2.30 dikelas sudah tinggal beberapa orang.
“Gw denger katanya lo tadi nangis
ya? Karena gw ya?” tanyanya dia.
Aku hanya menunduk dan tak
menjawab pertanyaanya, lalu ia mengangkat kepalaku dan menatapku dengan mata
coklatnya yang indah, aku tak sanggup untuk menjelaskannya.
“Maaf Tas, gw tadi nggak maksud
buat ngebentak lo. Maaf gw nggak sengaja.” Katanya dengan tatapan mata yang
membuatku tak kuasa ingin memeluknya.
*menangis* “Aku tadi kaget”
jawabku yang masih memeluk Reuben.
“Maaf Tas, gw eh aku nggak
bermaksud buat bikin kamu kaget. Udah jangan nangis lagi dong” bujuknya padaku.
Aku pun melepaskan pelukanku radinya,
tapi Reuben memelukku dengan erat.
“Reu, kenapa kamu nggak lepasin
pelukkan kamu. Aku sesak nih” kataku dengan manja.
“Tapi janji yaa nggak akan nangis
lagi, jadi cewek harus kuat ya!” ia menasehatiku sepertinya.
“Iya, tapi kamu juga jangan
tiba-tiba ngebentak gitu, untung aja aku nggak jantungan.” Kataku
“Kamu lucu banget sih, aku sayang
deh.” jawabnya sambil mencubit pipiku.
“Aku juga. Tapi Reu, kamu nggak
mau lepasin pelukan ini? Aku udah sesak nih.”
“Hmm, gimana yah? Aku masih
pengen meluk kamu, lagian kalau kamu sesak nafas kan masih ada aku yang bisa
bantu bikin nafas buatan aku kan pingin jadi sayap pelindungmu.” Ia menjawab
dengan senyum manisnya.
“Ih, dasar ya Reu bisa aja
ngegombal.”
“Tadi dibilang bebep, tapi kok
sekarang nggak ya?”
“Oh, jadi kamu mau di panggil
bebep nih?”tanyaku dengan manja.
“Iyalah.”
“Nggak ah.”
Tiba-tiba ia mencium pipi
kananku, aku kaget dibuatnya. Beberapa orang temanku dikelas langsung
menyorak-nyorakkan suara “Ciee… cie, so sweet banget sih!” aku tak dapat berkata
apa-apa.
Dalam pelukannya, Reuben pun
berbisik padaku “Aku akan selalu jadi sayap pelindungmu”.
casino.com: How to bet the house down? | DrmCD
BalasHapusIt's up to you to determine the winners of your 천안 출장안마 wagers and decide which ones 경상북도 출장안마 should be put into play! · What 경기도 출장안마 are 동두천 출장샵 the chances of a payout in 김제 출장샵 a casino? · How to choose a