Rabu, 04 Juni 2014

Dream



Siang itu…. Ada seorang Pangeran yang turun dari Ruangan Multimedia. Aaaa… buat hatiku bergetar dag dig dug tak menentu. Dan tak sengaja saja aku dan dia berpapasan saat berjalan. Dan ketika berpapasan itu aku tak berani untuk menyapanya, jangankan untuk menyapa menatapnya pun aku tak punya keberanian. Mati kutu aku tak bisa bertingkah layaknya seperti biasa.
Ketika pulang sekolah, temanku yang bernama Zahra berkata
“Ciee.. ada Pangeran yang jatoh dari Multi!”
Aku pun menjawab “Jatoh berarti mati dong?”
“Eh iya salah, maksud aku ada Pangeran yang turun dari Ruangan Multimedia.” Balas Zahra.
“Hahaha.. iya nih Zah, sumpah ya tadi itu waktu papasan rasanya dag dig dug gitu! Bayangin deh seorang Naomi bisa mati kutu dibuatnya.” Jelasku padanya.
“Tau deh tau yang lagi fallin’ in love sih beda!” ejek Zahra padaku.
“Ih, apa sih sirik aja deh!” jawabku.
Dengan tampang tengilnya Zahra menjawab dengan sebuah lagu “I’m single and very happy… “
“Wah single nih? Bukan mbloo yah? Hahaha!” ejekku.
“Apa sih nggak lucu deh!” Jawab Zahra sambil berjalan seribu langkah meninggalkanku.
                Aku pun berlari mengejar Zahra, tanpa di sangka aku terserempet sebuah motor. Karena terkejut bukan main, aku pun berteriak dan membuat pusat perhatian pada saat itu. Dan ternyata orang yang menyerempet dan hampir menabrak aku itu… adalah orang yang aku suka yap! Dia Mikha Angelo Brahmantyo. Orang paling tenar di sekolah, dan jago memainkan alat musik. Itu membuat semua anak perempuan di sekolah tergila-gila padanya termasuk juga aku.
“Aaaa… !!” Jeritku.
Ia pun langsung turun dari motor kerennya dan langsung membantuku untuk berdiri.
“Duh, sorry gw nggak sengaja. Ya ampun maaf, lo gimana sakit nggak? Mau gw anterin ke rumah sakit nggak?” Tanyanya penuh rasa bersalah.
Dalam rangkulannya aku sempat berpikir bahagianya sekali jika aku bisa dekat dengannya seperti ini, “Hmm, nggak apa-apa kok. Cuma kaki gw mungkin keseleo Mikh.” Jawabku dengan memelas.
Tiba – tiba Zahra datang dan langsung menghampiriku dan bertanya “Naomi kamu nggak apa-apa kan? Ada yang lecet nggak? Atau berdarah gitu? Ih ke Rumah Sakit yuk?!” ajaknya sambil menarik tanganku.
“Hmm. Nggak usah deh ya! Aku mau pulang aja. Zah cariin aku ojek aja!” Jawabku pada Zahra.
“Eh, jangan naik ojek gw anterin lo aja gimana? Kan gw yang udah bikin lo keseleo gini.” Bujuk Mikha padaku.
“Iya, gimana di anterin sama Mikha ini. Kan lumayan tuh nggak buang-buang duit hahaha” Sambung Zahra sambil tertawa kecil.
“Beneran nih? Hmm, yaudah deh gw nebeng sama lo deh Mikh. Tapi, Zahra gimana Mikh? Kan kasian dia masa dia pulang sendiri.” Jawabku pada Mikha sambil meniup-niup kaki yang sakit.
“Nggak usah Naomi gw bisa balik sendiri kok lagian kan gw juga ada janji sama Kakak gw Kak Andrew tercintahh hahaha.” Jelas Zahra padaku dan Mikha.
“Yaudah gw duluan ya Zah, salam juga tuh buat kakak lo yang tercinta itu haha.” Jawabku sambil mencoba naik ke motornya Mikha itu. Tapi, sayangnya kakiku tak cukup kuat untuk menaikinya. Akhirnya Mikha membantuku untuk naik ke motor kerennya itu.
Kami pun langsung pergi meninggalkan jalanan yang sempat menjadi sumber perhatian itu. Tapi, ini rasanya seperti mimpi. Baru kali ini aku berdekatan dengan Mikha Angelo Brahmantyo, cowok tenar satu sekolah. Wow siapa yang nggak mau coba buat deket sama dia dan batu kali ini aku bener-bener deket sama Mikha. Tiba-tiba Mikha bertanya padaku, “Naom, rumah lo dimana nih? Gw kan nggak tau.” Katanya dengan suara yang kencang, maklum aja dia pake helm. Disangkanya aku budek kali ya! Hft.
“Oh, iya rumahku di Perumahan Royal Permai Blok A9 no.22” Kataku dengan nada suara kencang juga.
“Wah sama dong, gw aru pindah nih ke daerah Perumahan itu.” Jawabnya.
“Lo di Blok mana emangnya?” tanyaku dengan  kepo.
“Hahaha, gw  di Blok Q7 no.11.” jawabnya.
“Lumayan jauh juga dari rumah gw, lo baru pindah kapan?” tanyaku dengan berteriak.
“Biasa aja kali Naomi gw nggak budek!” protesnya padaku karena suaraku terlalu kencang.
“Hehe maaf Mikh, gw kira lo agak budek gitu secara nih lo kan pake helm.” Kataku meminta maaf.
“Iya selow aja, lagian lo ngomong kayak orang minta tolong cetar kemana-mana gitu. Hehe, iya baru seminggu yang lalu gw pindah ke perumahan ini, lagian gw juga belum terlalu kenal sama daerah sini.” Katanya dengan panjang lebar.
“Yaelah lo kira gw Syahrini -,- pake cetar segala.” Jawabku dengan bete.
“Ceilah pake bĂȘte segala lo, hahaha. Eh, rumah lo sebelah mana nih? Perasaan dari tadi gw nggak nemu-nemu deh.” Tanyanya padaku.
“Bentar lagi bang, nah di depan situ lo belok kanan nah rumah gw ada disebelah kanan, no.22 inget tuh!” Jelasku.
“Yaampun lo kira gw tukang ojek apa? Jahat bangettdhh lo.” Jawabnya dengan nada sedikit berlebihan.
“Hmm, ternyata orang setenar sekeren lo bisa alay juga nggak nyangka gw oemji!.” Kataku ikutan alay juga.
“Gw juga manusia Naomiiii! Ya keleus gw nggak bisa alay, jangankan alay gw juga bisa tuh selfie-selfie nggak jelas kayak lo atau kadang pake tongsis. Haha.” Ledeknya padaku.
“Oh gituuuuh, yaampun kalo cewek-cewek satu sekolah tau yang ada mereka ilfeel sama lo Mikh, ahahaha.” Balas ejekku padanya.
“Yee bisa aja lo!.”
“Mikh, depan tuh rumah gw stop stop stop!!” kataku.
“CIIITTTTTT!!” suara rem motor berdecit.
“Naomi turun!” perintah Mikha padaku.
“Bentar-bentar susah nih, kaki gw sakitt lo bisa  bantu gw kan? Iya khaannn?” Rayuku padanya.
“Iya bentar.” Jawabnya singkat.
Akhirnya Mikha pun membantuku untuk turun dari motor kerennya, sumpah yaaaa! Ini udah kayak mimpi di siang bolong, ntah ini mimpi atau bukan tapi ini bakalan bikin sirik cewek-cewek satu sekolah wah enak kali ya jadi trending topic di sekolah, ahaha.
“Makasiiih banyak Mikha Angelo Brahmantyo, orang paling kece paling ngehitzz paling T-O-P  BGT deh! Masuk dulu yuk ke rumah gw, ngeteh atau minum dulu gitu atau mau makan?” Tawarku padanya.
“Hmm, gimana yah yaudah deh iya. Lumayan perut gw juga laper nih! Ahaha.” Jawab Mikha dengan PDnya.
“Wah gila lo, gw pikir lo jaim ternyataaa omaygad Mikh. Ahahaha berasa mimpi gw!” Jawabku sambil tertawa terbahak-bahak.
“Yaudah jadi nggak nih? Udah demo nih cacing di perut.” Komentar si Mikha ini.
“Okee oke silahkan masuk.” Aku pun mempersilahkan Mikha untuk masuk ke rumah.
“Assalamualaikum Bun? Kak?” Kataku pada penghuni rumah.
“Walaikumsalam, udah balik Naom? Kaki kamu kenapa?” Tanya Kak Ary. Kak Ary adalah kakakku tersayang, sebenernya sih nama dia Kak Hary. Tapi, aku dari kecil udah biasa manggil Kak Ary.
“Ini tadi aku keserempet motor anak ini nih Kak.” aduku pada Kakak tercinta.
“Oh jadi lo yang bikin ade gw kakinya jadi pincang?” Tanya Kak Ary pada Mikha dengan muka sangar.
“Hmm, itu kak hmm maaf tadi nggak sengaja nyerempet Naomi beneran deh nggak bohong Kak. Tapi, aku berani tanggung jawab kok Kak berapa pun biayanya.” Jawab Mikha dengan ekspresi muka ketakutan.
“Ahahahaha” tiba-tiba Kak Ary tertawa terbahak-bahak.
“Kenapa lo Kak? Kemasukan ?” tanyaku heran.
“Duh, ngakak gw ngeiat tampang lo Mikh. Selow aja ade gw jagoan kok, dia mah keserempet doang juga masih bisa matiin satu tikus. Wkwkwk!” jawab Kak Ary sambil tertawa terbahak-bahak.
“ Hufft.. Syukur deh hehehe.” Jawab Mikha sambil bernafas lega.
“Udah ah, apaan lagi si Kak Ary bikin orang jantungan aja kebiasaan lo Kak. Eh, ajakin Mikha ke ruang makan. Gw mau ke kamar dulu mau ganti baju sama cuci muka. Byeee!” kataku sambil berlari terpincang-pincang ke kamar.
Setelah aku berganti baju, aku pun langsung saja meluncur ke ruang makan. Dan ternyata di meja makan Mikha dan si kak Ary udah akrab aja. Aku pun langsung menghampiri mereka sambil berjalan pincang.
“Woy!! Udah akrab lagi aja nih! Eh iya, Bunda kemana Kak? tumben nggak keliatan? Eh Bunda udah masak kan?” tanyaku panik.
“Yaelah, lo mah makanan mulu gimana sih? Nih liat dong meja udah penuh sama makanan gini!” Jawab Kak Ary ketus.
“Hehe, ya sorry gw kira Bunda nggak masak. Kan nggak enak ada Mikha masa kaga dikasih makan?” Jawabku balik dengan nyolot sambil menjulurkan lidah.
“Udah ah, gw laper nih jadi kapan kita makan?” tiba-tiba Mikha memotong pembicaraan.
“Hehe, sorry Mikh. Okee kita makan sekarang!” Jawabku pada Mikha. Lalu aku pun langsung mengambil centong nasi dan tiba-tiba Kak Ary agak ngebentak gitu dan bikin Mikha dan aku kaget.
“HEH! Kebiasaan sebelum kita makan harus cuci tangan dahulu dan jangan lupa berdoa ayo makan bersama, lalala….~” Kata Kak Ary yang berhasil membuat kaget.
“Ih, Kakak lo kenapa sih? Kayaknya kalo gw seminggu disini gw udah pasti kena serangan jantung!” Kata Mikha sambil waspada melihat kearah Kak Ary dengan muka sinis.
“Udahlah Mikh, nggak akan ada lagi Kakak paling kocak kayak dia! Haha. Eh Kak  lo pimpin doa gih!” kataku sambil mau nyomot udang goring yang ada di piring.
“Okee, sebelum kita makan mari kita berdoa dulu supaya makanan ini berkah. Berdoa mulai.” Ucap Kak Ary dengan tampang so’ bijaknya itu.
“Ayoo kita makan, Mikh makan aja ya. Terserah lo mau ikan, udang, apa kek sayur sop tuh. Terserah yang penting perut lo yang ada 5 itu kenyang ahaha.” Kataku dengan sedikit meledek.
“Tenang Naom pasti gw makan kok.” Jawabnya.
Disaat makan Kak Ary bertanya pada Mikha.
“Eh, Mikh lo punya kakak atau adik nggak?”
“Punyalah Kak, gw punya 2 kakak cowok dan 1 adik cowok juga.” Jawabnya sambil nyengir.
“Yaelah gw kira lo punya kakak cewek gitu.” Balas Kak Ary dengan tampang sedikit bĂȘte.
“Ahaha MODUS LO Kak!” kataku memotong.
“Hehe, sebenernya ada sih Kak sepupuku tapi. Kataku jangan deh, soalnya dia agak aneh gitu. Yang ada kakak kebawa aneh sama dia.” Katanya.
“Yaaa sama aja bohong, ah lo bikin gw penasaran aja. Tapi, kalo ceweknya aneh sih (?) Hmm, ogah ah, gw nyari yang lempeng-lempeng aja.” Jawab Kak Ary dengan sedikit raut wajah kecewa.
“Udah ah, makan gw kapan selesainya kalo ngedengerin lo berdua curhat.” Kataku dengan sedikit ketus. Tapi, di dalam hati ingin sekali aku bertanya banyak pada Mikha soal semua tentangnya dan apapun yang penting tentang dirinya. Tiba-tiba Kak Ary bertanya lagi pada Mikha, emang dasar si Kak Ary ini “KEPOPERS” apa aja tentang orang atau apapun yang baru pasti pengennya nanya terus. Ya tapi, ini untung banget buat aku.
“Eh, Kakak lo namanya siapa aja Mikh? Umur berapa?”Tanyanya kepo.
“Oh, kakak yang pertama namanya Mada Emmanuelle Brahmantyo biasa dipanggil Mada, umurnya sekitar 19 jalan 20. Yang kedua namanya Reuben Nathaniel ini tanpa Brahmantyo, biasa dipanggil Ugi, Luigi, Ben, di itu baru umur 17 tahun. Nah adik gw yang terakhir namanya Andrew Lucianno Brahmantyo biasa dipanggil Ndu, umurnya 10 tahun.” Jawab Mikha panjang lebar, yang membuat mulutku menganga besar seperti kudanil.
“Eh eh, kok kakak lo yang namanya Reuben tadi kok nggak ada Brahmatyo-nya sih?” tanyaku kepo.
“Ohha, kata Papa sih. Waktu di akte namanya nggak cukup jadinya nggak pake Brahmantyo.EITS tapi, walaupun nggak pake nama Brahmantyo dia itu anak kandung Papa sama Mama. Ya kadang si Ugi sering di ejek sama Mada “anak adopsi” padahal bukan.” Jelas si Mikha.
“Oh gitu, kayaknya seru yaa punya kakak sama adik cowok semua. Rame apalagi kalau nanti pas Piala Dunia. Rumah pasti bakalan penuh sama teriakan sorak sorai.” Kata Kak Ary menambahkan.
“Jadi lo nyesel nih punya ade seunyu gw Kak?” Tanyaku menyindir pada Kak Ary.
“Hahaha, kalian jangan marah-marah. Kak kalau lo mau main ke rumah, kerumah aja. Gw  baru pindahan ke perumahan sini.” Jawab Mikha sambil sibuk dengan udang yang ia makan.
“Iya? Wah bakalan asyiik tuh. Emang alamat rumah lo dimana Mikh?” Tanya Kak Ary.
“Di blok Q7 no.11 Kak.” jawabnya. Aku heran melihat mukanya yang bentol-bentol berwarna merah, aku pun langsung bertanya padanya.
“Mikh, muka lo kenapa? Kok bentol-bentol merah gitu?” tanyaku keheranan.
“Iyakah? Wah, salah makan lagi dah gw.” Jawabnya kebingungan.
“Lo salah makan apa emangnya?” tanyaku keheranan.
“Gw lupa kalau gw makan udang habisnya suka bentol-bentol gini.”  Jawabnya.
“Terus gimana  nih? Mau ke Dokter barengan sama gw nggak?” tanyaku pada Mikha yang sedang kebingungan dengan mukanya.
“Nggak usah, gw ada kok obatnya di rumah. Oh iya kaki lo jadinya gimana?” tanyanya balik.
“Nggak apa kok, paling ntar nunggu tukang pijit datang udah gitu baru ke dokter.” Kataku. Pada saat itu Kak Ary malah sibuk melihat aku dan Mikha berbincang-bincang dengan masalah yang menimpa kita.
“Kak kok lo malah asyik ngeliatin kita yang kena musibah sih?” Kataku menyela.
“Hehe, sorry deh. Mikh, gimana mau gw anter nggak?” Tanya Kak Ary pada Mikha.
“Nggak usah kak, gw bawa motor kok. Lagian nggak enak kan udah ngerepotin.” Balas Mikha.
“Ok deh, GWS ya broo!” lanjut Kak Ary.
“Ok, thanks ya Kak, Naom. Balik dulu nih, maaf udah ngerepotin.”
“Iyaa, taka pa Mikh. Lain kali main kesini yak!” Kataku.
“MODUS BGT sih lo Naom!” kata Kak Ary padaku.
Mikha hanya tersenyum dan langsung meninggalkan rumah kami. Aku pun tertunduk malu tentang apa yang telah dikatakan Kak Ary.
~~~


Waktu itu…
                Aku bertemu dengan Mikha disebuah jembatan yang berwarna merah. Aku dan ia berpapasan, aku hanya tersenyum padanya tetapi tak ku sangka ia menyapaku dengan tiba-tiba.
“Heh.. sombong yee sekarang! Nggak pernah SMS lagi, nggak nyapa lo.” Katanya padaku.
Aku hanya bingung melihatnya seperti itu, aku tak berkata sepatah kata pun. Dan tanpa ku sadari aku merangkul Mikha.
“Ahaha, nggak kok gw nggak sombong!” jawabku.
“Oh, yaudah nomer HP lo masih yang dulu kan? Ntar kalo gw SMS atau telfon angkat yak!” sambung Mikha.
“Siap Kapten!!” Kataku.
                Saat itu aku sedang tak membawa ponsel, karena baterai ponselku low jadi tak ku bawa. Sesampainya di rumah, aku lanngsung memeriksa ponsel ku. Dan ternyata ada 2 miscalled dari Mikha. Tak berapa lama kemudian ada telfon masuk dan itu dari Mikha. Langsung saja ku angkat.
“Hallo…”
“Jreng jreng jreng…” terdengar suara petikan gitar.
                Aku hanya bisa diam tak bersuara sedikit pun seperti orang yang terkena sengatan listrik. OMAYGADDD!! You know what? Mikha nyanyi buat aku, aaa tidak rasanya seperti asdfghjkl yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
“Gubrakkkk!!!...” terdengar seperti suara orang yang jatuh. Dan ternyata aku terjatuh dari tempat tidur, dan yang baru saja ku alami hanyalah sebuah mimpi.