Siang itu…. Ada seorang Pangeran
yang turun dari Ruangan Multimedia. Aaaa… buat hatiku bergetar dag dig dug tak
menentu. Dan tak sengaja saja aku dan dia berpapasan saat berjalan. Dan ketika
berpapasan itu aku tak berani untuk menyapanya, jangankan untuk menyapa
menatapnya pun aku tak punya keberanian. Mati kutu aku tak bisa bertingkah
layaknya seperti biasa.
Ketika pulang sekolah, temanku
yang bernama Zahra berkata
“Ciee.. ada Pangeran yang jatoh
dari Multi!”
Aku pun menjawab “Jatoh berarti
mati dong?”
“Eh iya salah, maksud aku ada
Pangeran yang turun dari Ruangan Multimedia.” Balas Zahra.
“Hahaha.. iya nih Zah, sumpah ya
tadi itu waktu papasan rasanya dag dig dug gitu! Bayangin deh seorang Naomi
bisa mati kutu dibuatnya.” Jelasku padanya.
“Tau deh tau yang lagi fallin’ in
love sih beda!” ejek Zahra padaku.
“Ih, apa sih sirik aja deh!”
jawabku.
Dengan tampang tengilnya Zahra
menjawab dengan sebuah lagu “I’m single and very happy… “
“Wah single nih? Bukan mbloo yah?
Hahaha!” ejekku.
“Apa sih nggak lucu deh!” Jawab
Zahra sambil berjalan seribu langkah meninggalkanku.
Aku
pun berlari mengejar Zahra, tanpa di sangka aku terserempet sebuah motor.
Karena terkejut bukan main, aku pun berteriak dan membuat pusat perhatian pada
saat itu. Dan ternyata orang yang menyerempet dan hampir menabrak aku itu…
adalah orang yang aku suka yap! Dia Mikha Angelo Brahmantyo. Orang paling tenar
di sekolah, dan jago memainkan alat musik. Itu membuat semua anak perempuan di
sekolah tergila-gila padanya termasuk juga aku.
“Aaaa… !!” Jeritku.
Ia pun langsung turun dari motor
kerennya dan langsung membantuku untuk berdiri.
“Duh, sorry gw nggak sengaja. Ya
ampun maaf, lo gimana sakit nggak? Mau gw anterin ke rumah sakit nggak?”
Tanyanya penuh rasa bersalah.
Dalam rangkulannya aku sempat
berpikir bahagianya sekali jika aku bisa dekat dengannya seperti ini, “Hmm,
nggak apa-apa kok. Cuma kaki gw mungkin keseleo Mikh.” Jawabku dengan memelas.
Tiba – tiba Zahra datang dan
langsung menghampiriku dan bertanya “Naomi kamu nggak apa-apa kan? Ada yang
lecet nggak? Atau berdarah gitu? Ih ke Rumah Sakit yuk?!” ajaknya sambil
menarik tanganku.
“Hmm. Nggak usah deh ya! Aku mau
pulang aja. Zah cariin aku ojek aja!” Jawabku pada Zahra.
“Eh, jangan naik ojek gw anterin
lo aja gimana? Kan gw yang udah bikin lo keseleo gini.” Bujuk Mikha padaku.
“Iya, gimana di anterin sama
Mikha ini. Kan lumayan tuh nggak buang-buang duit hahaha” Sambung Zahra sambil
tertawa kecil.
“Beneran nih? Hmm, yaudah deh gw
nebeng sama lo deh Mikh. Tapi, Zahra gimana Mikh? Kan kasian dia masa dia
pulang sendiri.” Jawabku pada Mikha sambil meniup-niup kaki yang sakit.
“Nggak usah Naomi gw bisa balik
sendiri kok lagian kan gw juga ada janji sama Kakak gw Kak Andrew tercintahh
hahaha.” Jelas Zahra padaku dan Mikha.
“Yaudah gw duluan ya Zah, salam
juga tuh buat kakak lo yang tercinta itu haha.” Jawabku sambil mencoba naik ke
motornya Mikha itu. Tapi, sayangnya kakiku tak cukup kuat untuk menaikinya.
Akhirnya Mikha membantuku untuk naik ke motor kerennya itu.
Kami pun langsung pergi meninggalkan
jalanan yang sempat menjadi sumber perhatian itu. Tapi, ini rasanya seperti mimpi.
Baru kali ini aku berdekatan dengan Mikha Angelo Brahmantyo, cowok tenar satu
sekolah. Wow siapa yang nggak mau coba buat deket sama dia dan batu kali ini
aku bener-bener deket sama Mikha. Tiba-tiba Mikha bertanya padaku, “Naom, rumah
lo dimana nih? Gw kan nggak tau.” Katanya dengan suara yang kencang, maklum aja
dia pake helm. Disangkanya aku budek kali ya! Hft.
“Oh, iya rumahku di Perumahan
Royal Permai Blok A9 no.22” Kataku dengan nada suara kencang juga.
“Wah sama dong, gw aru pindah nih
ke daerah Perumahan itu.” Jawabnya.
“Lo di Blok mana emangnya?”
tanyaku dengan kepo.
“Hahaha, gw di Blok Q7 no.11.” jawabnya.
“Lumayan jauh juga dari rumah gw,
lo baru pindah kapan?” tanyaku dengan berteriak.
“Biasa aja kali Naomi gw nggak
budek!” protesnya padaku karena suaraku terlalu kencang.
“Hehe maaf Mikh, gw kira lo agak
budek gitu secara nih lo kan pake helm.” Kataku meminta maaf.
“Iya selow aja, lagian lo ngomong
kayak orang minta tolong cetar kemana-mana gitu. Hehe, iya baru seminggu yang
lalu gw pindah ke perumahan ini, lagian gw juga belum terlalu kenal sama daerah
sini.” Katanya dengan panjang lebar.
“Yaelah lo kira gw Syahrini -,-
pake cetar segala.” Jawabku dengan bete.
“Ceilah pake bĂȘte segala lo,
hahaha. Eh, rumah lo sebelah mana nih? Perasaan dari tadi gw nggak nemu-nemu
deh.” Tanyanya padaku.
“Bentar lagi bang, nah di depan
situ lo belok kanan nah rumah gw ada disebelah kanan, no.22 inget tuh!”
Jelasku.
“Yaampun lo kira gw tukang ojek
apa? Jahat bangettdhh lo.” Jawabnya dengan nada sedikit berlebihan.
“Hmm, ternyata orang setenar
sekeren lo bisa alay juga nggak nyangka gw oemji!.” Kataku ikutan alay juga.
“Gw juga manusia Naomiiii! Ya
keleus gw nggak bisa alay, jangankan alay gw juga bisa tuh selfie-selfie nggak
jelas kayak lo atau kadang pake tongsis. Haha.” Ledeknya padaku.
“Oh gituuuuh, yaampun kalo
cewek-cewek satu sekolah tau yang ada mereka ilfeel sama lo Mikh, ahahaha.”
Balas ejekku padanya.
“Yee bisa aja lo!.”
“Mikh, depan tuh rumah gw stop
stop stop!!” kataku.
“CIIITTTTTT!!” suara rem motor
berdecit.
“Naomi turun!” perintah Mikha
padaku.
“Bentar-bentar susah nih, kaki gw
sakitt lo bisa bantu gw kan? Iya
khaannn?” Rayuku padanya.
“Iya bentar.” Jawabnya singkat.
Akhirnya Mikha pun membantuku
untuk turun dari motor kerennya, sumpah yaaaa! Ini udah kayak mimpi di siang
bolong, ntah ini mimpi atau bukan tapi ini bakalan bikin sirik cewek-cewek satu
sekolah wah enak kali ya jadi trending topic di sekolah, ahaha.
“Makasiiih banyak Mikha Angelo
Brahmantyo, orang paling kece paling ngehitzz paling T-O-P BGT deh! Masuk dulu yuk ke rumah gw, ngeteh
atau minum dulu gitu atau mau makan?” Tawarku padanya.
“Hmm, gimana yah yaudah deh iya.
Lumayan perut gw juga laper nih! Ahaha.” Jawab Mikha dengan PDnya.
“Wah gila lo, gw pikir lo jaim
ternyataaa omaygad Mikh. Ahahaha berasa mimpi gw!” Jawabku sambil tertawa
terbahak-bahak.
“Yaudah jadi nggak nih? Udah demo
nih cacing di perut.” Komentar si Mikha ini.
“Okee oke silahkan masuk.” Aku
pun mempersilahkan Mikha untuk masuk ke rumah.
“Assalamualaikum Bun? Kak?”
Kataku pada penghuni rumah.
“Walaikumsalam, udah balik Naom?
Kaki kamu kenapa?” Tanya Kak Ary. Kak Ary adalah kakakku tersayang, sebenernya
sih nama dia Kak Hary. Tapi, aku dari kecil udah biasa manggil Kak Ary.
“Ini tadi aku keserempet motor
anak ini nih Kak.” aduku pada Kakak tercinta.
“Oh jadi lo yang bikin ade gw
kakinya jadi pincang?” Tanya Kak Ary pada Mikha dengan muka sangar.
“Hmm, itu kak hmm maaf tadi nggak
sengaja nyerempet Naomi beneran deh nggak bohong Kak. Tapi, aku berani tanggung
jawab kok Kak berapa pun biayanya.” Jawab Mikha dengan ekspresi muka ketakutan.
“Ahahahaha” tiba-tiba Kak Ary
tertawa terbahak-bahak.
“Kenapa lo Kak? Kemasukan ?”
tanyaku heran.
“Duh, ngakak gw ngeiat tampang lo
Mikh. Selow aja ade gw jagoan kok, dia mah keserempet doang juga masih bisa
matiin satu tikus. Wkwkwk!” jawab Kak Ary sambil tertawa terbahak-bahak.
“ Hufft.. Syukur deh hehehe.”
Jawab Mikha sambil bernafas lega.
“Udah ah, apaan lagi si Kak Ary
bikin orang jantungan aja kebiasaan lo Kak. Eh, ajakin Mikha ke ruang makan. Gw
mau ke kamar dulu mau ganti baju sama cuci muka. Byeee!” kataku sambil berlari
terpincang-pincang ke kamar.
Setelah aku berganti baju, aku
pun langsung saja meluncur ke ruang makan. Dan ternyata di meja makan Mikha dan
si kak Ary udah akrab aja. Aku pun langsung menghampiri mereka sambil berjalan
pincang.
“Woy!! Udah akrab lagi aja nih!
Eh iya, Bunda kemana Kak? tumben nggak keliatan? Eh Bunda udah masak kan?”
tanyaku panik.
“Yaelah, lo mah makanan mulu
gimana sih? Nih liat dong meja udah penuh sama makanan gini!” Jawab Kak Ary
ketus.
“Hehe, ya sorry gw kira Bunda
nggak masak. Kan nggak enak ada Mikha masa kaga dikasih makan?” Jawabku balik
dengan nyolot sambil menjulurkan lidah.
“Udah ah, gw laper nih jadi kapan
kita makan?” tiba-tiba Mikha memotong pembicaraan.
“Hehe, sorry Mikh. Okee kita
makan sekarang!” Jawabku pada Mikha. Lalu aku pun langsung mengambil centong
nasi dan tiba-tiba Kak Ary agak ngebentak gitu dan bikin Mikha dan aku kaget.
“HEH! Kebiasaan sebelum kita
makan harus cuci tangan dahulu dan jangan lupa berdoa ayo makan bersama,
lalala….~” Kata Kak Ary yang berhasil membuat kaget.
“Ih, Kakak lo kenapa sih?
Kayaknya kalo gw seminggu disini gw udah pasti kena serangan jantung!” Kata
Mikha sambil waspada melihat kearah Kak Ary dengan muka sinis.
“Udahlah Mikh, nggak akan ada
lagi Kakak paling kocak kayak dia! Haha. Eh Kak
lo pimpin doa gih!” kataku sambil mau nyomot udang goring yang ada di
piring.
“Okee, sebelum kita makan mari
kita berdoa dulu supaya makanan ini berkah. Berdoa mulai.” Ucap Kak Ary dengan
tampang so’ bijaknya itu.
“Ayoo kita makan, Mikh makan aja
ya. Terserah lo mau ikan, udang, apa kek sayur sop tuh. Terserah yang penting
perut lo yang ada 5 itu kenyang ahaha.” Kataku dengan sedikit meledek.
“Tenang Naom pasti gw makan kok.”
Jawabnya.
Disaat makan Kak Ary bertanya
pada Mikha.
“Eh, Mikh lo punya kakak atau
adik nggak?”
“Punyalah Kak, gw punya 2 kakak
cowok dan 1 adik cowok juga.” Jawabnya sambil nyengir.
“Yaelah gw kira lo punya kakak
cewek gitu.” Balas Kak Ary dengan tampang sedikit bĂȘte.
“Ahaha MODUS LO Kak!” kataku
memotong.
“Hehe, sebenernya ada sih Kak
sepupuku tapi. Kataku jangan deh, soalnya dia agak aneh gitu. Yang ada kakak
kebawa aneh sama dia.” Katanya.
“Yaaa sama aja bohong, ah lo
bikin gw penasaran aja. Tapi, kalo ceweknya aneh sih (?) Hmm, ogah ah, gw nyari
yang lempeng-lempeng aja.” Jawab Kak Ary dengan sedikit raut wajah kecewa.
“Udah ah, makan gw kapan
selesainya kalo ngedengerin lo berdua curhat.” Kataku dengan sedikit ketus. Tapi,
di dalam hati ingin sekali aku bertanya banyak pada Mikha soal semua tentangnya
dan apapun yang penting tentang dirinya. Tiba-tiba Kak Ary bertanya lagi pada
Mikha, emang dasar si Kak Ary ini “KEPOPERS” apa aja tentang orang atau apapun
yang baru pasti pengennya nanya terus. Ya tapi, ini untung banget buat aku.
“Eh, Kakak lo namanya siapa aja
Mikh? Umur berapa?”Tanyanya kepo.
“Oh, kakak yang pertama namanya
Mada Emmanuelle Brahmantyo biasa dipanggil Mada, umurnya sekitar 19 jalan 20.
Yang kedua namanya Reuben Nathaniel ini tanpa Brahmantyo, biasa dipanggil Ugi,
Luigi, Ben, di itu baru umur 17 tahun. Nah adik gw yang terakhir namanya Andrew
Lucianno Brahmantyo biasa dipanggil Ndu, umurnya 10 tahun.” Jawab Mikha panjang
lebar, yang membuat mulutku menganga besar seperti kudanil.
“Eh eh, kok kakak lo yang namanya
Reuben tadi kok nggak ada Brahmatyo-nya sih?” tanyaku kepo.
“Ohha, kata Papa sih. Waktu di
akte namanya nggak cukup jadinya nggak pake Brahmantyo.EITS tapi, walaupun
nggak pake nama Brahmantyo dia itu anak kandung Papa sama Mama. Ya kadang si
Ugi sering di ejek sama Mada “anak adopsi” padahal bukan.” Jelas si Mikha.
“Oh gitu, kayaknya seru yaa punya
kakak sama adik cowok semua. Rame apalagi kalau nanti pas Piala Dunia. Rumah
pasti bakalan penuh sama teriakan sorak sorai.” Kata Kak Ary menambahkan.
“Jadi lo nyesel nih punya ade
seunyu gw Kak?” Tanyaku menyindir pada Kak Ary.
“Hahaha, kalian jangan
marah-marah. Kak kalau lo mau main ke rumah, kerumah aja. Gw baru pindahan ke perumahan sini.” Jawab Mikha
sambil sibuk dengan udang yang ia makan.
“Iya? Wah bakalan asyiik tuh.
Emang alamat rumah lo dimana Mikh?” Tanya Kak Ary.
“Di blok Q7 no.11 Kak.” jawabnya.
Aku heran melihat mukanya yang bentol-bentol berwarna merah, aku pun langsung
bertanya padanya.
“Mikh, muka lo kenapa? Kok
bentol-bentol merah gitu?” tanyaku keheranan.
“Iyakah? Wah, salah makan lagi
dah gw.” Jawabnya kebingungan.
“Lo salah makan apa emangnya?”
tanyaku keheranan.
“Gw lupa kalau gw makan udang
habisnya suka bentol-bentol gini.”
Jawabnya.
“Terus gimana nih? Mau ke Dokter barengan sama gw nggak?”
tanyaku pada Mikha yang sedang kebingungan dengan mukanya.
“Nggak usah, gw ada kok obatnya
di rumah. Oh iya kaki lo jadinya gimana?” tanyanya balik.
“Nggak apa kok, paling ntar
nunggu tukang pijit datang udah gitu baru ke dokter.” Kataku. Pada saat itu Kak
Ary malah sibuk melihat aku dan Mikha berbincang-bincang dengan masalah yang
menimpa kita.
“Kak kok lo malah asyik ngeliatin
kita yang kena musibah sih?” Kataku menyela.
“Hehe, sorry deh. Mikh, gimana
mau gw anter nggak?” Tanya Kak Ary pada Mikha.
“Nggak usah kak, gw bawa motor
kok. Lagian nggak enak kan udah ngerepotin.” Balas Mikha.
“Ok deh, GWS ya broo!” lanjut Kak
Ary.
“Ok, thanks ya Kak, Naom. Balik
dulu nih, maaf udah ngerepotin.”
“Iyaa, taka pa Mikh. Lain kali
main kesini yak!” Kataku.
“MODUS BGT sih lo Naom!” kata Kak
Ary padaku.
Mikha hanya tersenyum dan
langsung meninggalkan rumah kami. Aku pun tertunduk malu tentang apa yang telah
dikatakan Kak Ary.
~~~
Waktu itu…
Aku
bertemu dengan Mikha disebuah jembatan yang berwarna merah. Aku dan ia
berpapasan, aku hanya tersenyum padanya tetapi tak ku sangka ia menyapaku
dengan tiba-tiba.
“Heh.. sombong yee sekarang!
Nggak pernah SMS lagi, nggak nyapa lo.” Katanya padaku.
Aku hanya bingung melihatnya
seperti itu, aku tak berkata sepatah kata pun. Dan tanpa ku sadari aku
merangkul Mikha.
“Ahaha, nggak kok gw nggak
sombong!” jawabku.
“Oh, yaudah nomer HP lo masih
yang dulu kan? Ntar kalo gw SMS atau telfon angkat yak!” sambung Mikha.
“Siap Kapten!!” Kataku.
Saat
itu aku sedang tak membawa ponsel, karena baterai ponselku low jadi tak ku
bawa. Sesampainya di rumah, aku lanngsung memeriksa ponsel ku. Dan ternyata ada
2 miscalled dari Mikha. Tak berapa lama kemudian ada telfon masuk dan itu dari
Mikha. Langsung saja ku angkat.
“Hallo…”
“Jreng jreng jreng…” terdengar
suara petikan gitar.
Aku
hanya bisa diam tak bersuara sedikit pun seperti orang yang terkena sengatan
listrik. OMAYGADDD!! You know what? Mikha nyanyi buat aku, aaa tidak rasanya
seperti asdfghjkl yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
“Gubrakkkk!!!...” terdengar
seperti suara orang yang jatuh. Dan ternyata aku terjatuh dari tempat tidur,
dan yang baru saja ku alami hanyalah sebuah mimpi.