Sabtu, 12 April 2014

Sayap Pelindungmu



                Yeyeye Lalala, yeah hari ini adalah hari pertama aku masuk SMA. Wow setelah di MOS selama satu minggu akhirnya selesai juga. Duh udah nggak sabar buat belajar dan sekolah di sekolah yang baru. Well, aku sekolah di SMA Tunas Bangsa.
                “KRINGGGGG!!!” suara alarmku bunyi.
*tarik selimut lagi*
                “KRINGGGG!!!” suara alarmku bunyi lagi.
*liat jam, tarik selimut lagi*
                “KRINGGG!!!” suara alarmku bunyi lagi untuk yang ketiga kalinya.
“Aaaaa. Aku telat” teriakku. Pada saat itu jam menunjukan jam 6.30 pagi.
                Langsung saja aku pergi mandi dan langsung ganti baju dengan seragam SMA baruku. Suasana kamar begitu berantakan so, aku harus beresin dulu. “Bodo amatlah mau rapi atau nggak dari pada telat” pikirku.
“Nek, aku berangkat dulu yaa!” teriakku.
“Nggak sarapan dulu Tas?” Tanya nenekku.
“Nggak Nek, Tasya udah telat nih. Dah nenek”  sambil cium tangan nenek.
                Dijalan.. Mana Busway penuh, terpaksa nunggu. Udah telat begini, ya sudahlah pasrah aja. Nggak lama Busway datang, dan aku langsung masuk ke dalem Busway itu. “ini Busway kok parah banget sih? Tumben banget penuh” Tanyaku dalam hati. Karena penuh, aku pun berdiri.
                Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku..
“Hey!” sapanya.
“Eh” kataku kaget.
“Maaf ya kamu siapa?” Tanyaku lagi.
“Kamu anak SMA Tunas Bangsa ya?” sambil liat logo sekolahku.
“Iya, maaf kamu siapa ya?”
                Dia nggak jawab dan cuma senyum,  aku pun bingung karena dia pake seragam SMA tapi karena pake jaket jadi nggak keliatan sekolah mana Tampangnya sih lumayan coganlah. Tapi yaudahlah nggak usah dibahas. Dan tiba-tiba dia udah nggak ada disamping aku lagi. Sosok yang penuh misterius.
Sampai disekolah…
                Baru lewatin gerbang sekolah, tiba-tiba bel udah bunyi gitu aja. Aku pun langsung lari pontang-panting nyari kelas X-6. Untung saja ketika aku masuk kelas itu belum ada guru yang masuk. Aku melihat orang yang tadi di Busway. Tempat duduk hampir penuh dan aku segera mencari tempat duduk yang nggak begitu di depan dan nggak terlalu belakang. Orang misterius tadi duduk di depan, tapi dia nggak duduk deket aku. Akhirnya wali kelas pun datang, wali kelasku perempuan yang bernama Miss Catherine atau Miss Katy. Dia orang Indo, penampilannya menarik dan dia juga cantik. Miss katy pun langsung menyuruh anak-anak untuk memperkenalkan diri.
                Dan tiba saat pada anak misterius itu untuk memperkenalkan diri.
“Pagi, nama saya Reuben Nathaniel panggil aja Reu. Saya berasal dari SMP Regina Pacis” Katanya.
“Oh, jadi nama dia Reuben. Dia manis juga” pikirku. Dan tiba saatnya aku yang perkenalkan diri.
“Selamat pagi semuanyaJ. Nama saya Tasya Hira, panggil aja Tasya. Saya berasal dari SMP Kesatuan” kataku. Ketika aku memperkenalkan diri Reu melihat kearahku dan senyum, tapi  senyumnya dia itu misterius.
                Miss Katy pun mengatur denah duduk murid di kelas, ternyata aku duduk sama Reuben. Akupun langsung menyapanya.
“Oh jadi lo yang tadi namanya Reu” kataku pada dia.
:) Dia senyum “ iya, kenapa emang itu gw?” tanyanya.
“Nggak kenapa-napa sih!” kataku.
“Lo manis” Katanya pelan.
“Hah? Apa gw nggak denger” kataku.
“Nggak, udahlah lupain” katanya.
“Ih bilang apa ih? Jangan bikin orang penasaran deh!” paksaku padanya.
“Bukan apa-apa kok!”
“Ih Reu apa Reu tadi lo ngomong apa?” kataku mendekat pada Reu.
Tiba –tiba dia menoleh kearahku, dan wajahku tepat berhadapan dengan wajahnya. Dia melihatku dengan tatapan misterius itu lagi yang membuatku deg degan. Dan dia hanya tersenyum J dan langsung pergi dengan temannya.
Pulang sekolah…
“Eh, Tas pulang bareng yuk?” Ajak temanku yang bernama Sonya.
“Ayo, bentar beresin buku dulu. Eh iya, Reu gw pulang duluan ya! Dah” Kataku.
“Iya, dah juga Tas” jawabnya sambil tersenyum. J
~
Pada suatu hari, setelah berbulan-bulan aku  bersekolah di SMA itu. Tiba-tiba ada yang menyapaku.
“Pagi Tas!” Sapa seseorang yang tak ku kenal suaranya.
“Iya, pagi juga. Maaf siapa ya?” tanyaku padanya.
“Hehe, gw kakak kelas lo. tau nggak gw yang mana?”
Aku diam sejenak untuk mengingat kalau dia ini siapa.
“Hmm, gw nggak inget kak! Hehehe maklum gw agak pelupa” jawabku.
“Wah, kudu di MOS lagi nih, haha. Masa nggak inget sama kakak kelas lo yang pernah jailin lo waktu MOS?!” katanya.
“Oh, hahaha iya baru inget gw. Oh lo kak, Kak Audrian kan?”
“Wah, baru inget lo. Kemana aja mbak?” katanya.
“Hahaha, yaampun kak maklum kek gw rada amnesia sesaat gitu!”
“Ceilah gaya banget bahasa lo, ngomong-ngomong dapet kelas berapa lo? “
“X-6 Kak” jawabku.
“Wah, hahaha sabar ya lantai 3. Tiap hari olahraga nih, tapi bagus lah supaya lo kurus.” Katanya meledek.
“Wah, anjiir ya si Kakak. Gw nggak gendut kak, udah sexy begini gimana sih.” jawabku dengan nada bercanda.
Ketika sedang asyik mengobrol dengan Kak Audrian, tiba-tiba Reu lewat dan melihat dengan sinis dan langsung pergi. Aku bingung melihat tingkah laku Reu.
Sesampainya di kelas..
“Hey, tadi sinis banget sih!” Kataku.
“Apa? Tadi? Lo liat gw Tas?” tanyanya kaget.
“Yaiyalah Reu, lo segede gitu masa gw kaga liat, wah parah banget lo.”
“Hmm, tadi ya. Hahaha ga apa-apa kok, emang gitu kali tampang gw.” Jawabnya.
“Masa sih tampang lo gitu? Menurut gw lo cukup manis. :)” kataku.
“Hah? Nggak salah denger nih?” tanyanya padaku.
“Hmm, nggak jadi deh gw ralat deh!”
“Yaelah, dasar labil.” Katanya.
                Saat pelajaran Biologi di lab, aku dan Reuben kebagian mikroskop berdua, maklum mikroskop di sekolahku cuma ada 15 dan murid di kelas cuma ada 25 orang.
“Eh, Reu ini bentuk otot binatang atau tumbuhan sih?” Kok gw bingung.
“Ini tumbuhan” jawabnya singkat dan sibuk dengan mikroskopnya.
“Oh, gitu.. Kalau yang ini apa? “ tanyaku lagi.
“Padi.”Jawabnya lebih singkat.
“Bebep Reu kamu kenapa?” tanyaku dengan heran.
“Apa bebep-bebep!” jawabnya dengan nada suara membentak.
Seketika aku terdiam, dan tak berbicara lagi. Dan setelah keluar lab.aku langsung saja berganti pakaian dan bergegas ke ruangan kelas. Dan Sonya bertanya kepadaku.
“Lo kenapa Tas, kok kayak yang ketakutan gitu?”
*menangis*
“Ih lo kenapa tas? Ceita sama gw, lo ada masalah?” tanyanya heran dan kebingungan melihatku menangis tiba-tiba.
*masih menangis*
“Tenangin diri dulu deh, kalo lo udah tenang baru cerita. Tarik nafas, buang pelan-pelan ya!”.
Aku pun mengikuti perintah Sonya.
“Udah baikan Tas?”tanyanya padaku.
“Hmm, udah.” Jawabku.
“Yaudah, mau cerita nggak?” Tanya Sonya.
“Iya, jadi tadi pas di lab.aku nanya sama Reu, dia jawab tapi singkat banget. Nah kan udah gitu aku nanya dia kenapa? Eh, dia jawab kayak ngebentak gitu. Apa aku salah ya Son?” Tanyaku pada Sonya.
“Ya nggak lah, gw bingung sama itu orang ganteng sih tapi sayang agak aneh sama misterius gitu. Yaudah lo jangan nangis lagi Tas, be strong beib!” sonyapun menenangkanku.
Tiba-tiba Reuben datang dan memberi isyarat pada Sonya, dan Sonya pun meninggalkan kami berdua. Ketika itu sore hari jam 2.30 dikelas sudah tinggal beberapa orang.
“Gw denger katanya lo tadi nangis ya? Karena gw ya?” tanyanya dia.
Aku hanya menunduk dan tak menjawab pertanyaanya, lalu ia mengangkat kepalaku dan menatapku dengan mata coklatnya yang indah, aku tak sanggup untuk menjelaskannya.
“Maaf Tas, gw tadi nggak maksud buat ngebentak lo. Maaf gw nggak sengaja.” Katanya dengan tatapan mata yang membuatku tak kuasa ingin memeluknya.
*menangis* “Aku tadi kaget” jawabku yang masih memeluk Reuben.
“Maaf Tas, gw eh aku nggak bermaksud buat bikin kamu kaget. Udah jangan nangis lagi dong” bujuknya padaku.
Aku pun melepaskan pelukanku radinya, tapi Reuben memelukku dengan erat.
“Reu, kenapa kamu nggak lepasin pelukkan kamu. Aku sesak nih” kataku dengan manja.
“Tapi janji yaa nggak akan nangis lagi, jadi cewek harus kuat ya!” ia menasehatiku sepertinya.
“Iya, tapi kamu juga jangan tiba-tiba ngebentak gitu, untung aja aku nggak jantungan.” Kataku
“Kamu lucu banget sih, aku sayang deh.” jawabnya sambil mencubit pipiku.
“Aku juga. Tapi Reu, kamu nggak mau lepasin pelukan ini? Aku udah sesak nih.”
“Hmm, gimana yah? Aku masih pengen meluk kamu, lagian kalau kamu sesak nafas kan masih ada aku yang bisa bantu bikin nafas buatan aku kan pingin jadi sayap pelindungmu.” Ia menjawab dengan senyum manisnya.
“Ih, dasar ya Reu bisa aja ngegombal.”
“Tadi dibilang bebep, tapi kok sekarang nggak ya?”
“Oh, jadi kamu mau di panggil bebep nih?”tanyaku dengan manja.
“Iyalah.”
“Nggak ah.”
Tiba-tiba ia mencium pipi kananku, aku kaget dibuatnya. Beberapa orang temanku dikelas langsung menyorak-nyorakkan suara “Ciee… cie, so sweet banget sih!” aku tak dapat berkata apa-apa.
Dalam pelukannya, Reuben pun berbisik padaku “Aku akan selalu jadi sayap pelindungmu”.

1 komentar:

  1. casino.com: How to bet the house down? | DrmCD
    It's up to you to determine the winners of your 천안 출장안마 wagers and decide which ones 경상북도 출장안마 should be put into play! · What 경기도 출장안마 are 동두천 출장샵 the chances of a payout in 김제 출장샵 a casino? · How to choose a

    BalasHapus