Suatu hari, di Desa Citugu, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Provinsi
Jawa Barat, Negara Indonesia, Benua Asia, Planet Bumi hiduplah seorang gadis cantik dengan ayah,
ibu tiri, dan kedua kaka tirinya. Keluarga itu hidup penuh dengan kesandiwaraan.
Suatu
malam, Lela sedang memasak lele untuk makan malam keluarganya. Setelah masakan
selesai ia menghidangkannya. Sementara itu ibu tiri dan kedua kaka tirinya
sedang merencanakan sesuatu. Tiba-tiba…
Ijah
: (memanggil dengan lembut) “Lela mau nggak bantuin aku bikin minuman?”
Lela
: “ya, tentu saja ka”
Sementara itu Masitoh dan Ipeh akan
memberikan racun kepada makanan ayahnya Lela.
Masitoh
: “beb racunnya udah di beli belum?”
Ipeh
: “udah mih, tapi di tokonya lagi habis, jadi aku beli racun tikus aja deh”
Masitoh
: “yaudah masukin sebelum si upik abu dateng”
Ipeh
: “aku takut mih, tangan ku gemeteran. Mamih aja ya”
Masitoh
: “dasar anak ga guna. Sini sama mamih aja”
Masitoh pun
menaburkan racun ke makanan ayahnya Lela. Sementara Lela dan Ijah membawa
minuman yang sudah mereka buat. Masitoh memanggil sang suami.
Masitoh
: “pipi Kosim sini dong… makanan nya udah siap nih”
Kosim
: “ia sebentar istriku”
Kosim pun datang dan semua duduk di meja
makan.
Kosim
: “emm..kayanya lelenya enak nih”
Ijah,Ipeh
: “iya dong kan masakan lelenya ala Lela”
Kosim
: “ia ayah coba ya”
Setelah
semua selesai makan, tiba-tiba ayahnya Lela kejang-kejang. Lela berusaha
menenangkan ayahnya tapi ayah tidak bisa ditolong
dan meninggal. Masitoh, Ijah dan Ipeh pura-pura menangis, padahal di hati kecil
mereka, mereka merasa senang.
Sementara itu di Kerajaan Tangkil, Desa Cinagara, Kecamatan Caringin, Kabupaten bogor tinggallah seorang handsome
prince yang bernama Encep Sugencep Semuacewekepencep. Ia memiliki 2
pengawal yang sangat setia yang bernama Dadang dan Dudung. Suatu hari di
halaman kerajaan….
Encep
: “Dang, Dung sini deh!”
Dudung
: “ada apa yang mulia?”
Encep
: “saya teh
ingin punya pujaan hati, tapi sudah lama mecari ga ada yang
sreg”
Dadang
: “apa ini teh
yang sereg? Celananya bukan?”
Dudung : “ngocol kamu teh”
Encep
: “udah-udah jangan bertegkar, kaya tom and jerry aja, tapi saya yakin kalau jodoh pasti dateng sendiri”
Pada malam
harinya Encep bermimpi bertemu dengan Makdari, dia
diberi petunjuk bahwa ia harus mencari gadis yang memiliki keunikan yang sama
dengan dirinya.
Makdari
: “hai…Encep”
Encep
: “kamu kok tau nama aku?”
Makdari
: “ia donk, makdari gitu lho, kamu kan yang suka update galau di facebook”
Encep
: “wah, nih makdari gaul juga”
Makdari
: “udah ah jangan bercanda terus. Aku punya sesuatu buat kamu.
Encep
: “apa?”
Makdari
: “wanipiro? He he sekarang serius ya, jika kamu mau mendapatkan kebahagiaan hidup
“pasangan hidup” kamu harus mencari seorang gadis yang
memiliki keunikan yang sama seperti kamu”
Encep
: (bertanya dalam hati) “keunikan yang sama? Maksudnya?”
(bertanya kepada makdari)
“makdari, maksud…..”
Tetapi saat
Encep ingin menanyakan maksud perkataan Makdari, Makdari telah menghilang. Dan Encep pun terbangun dari
tidurnya. Setelah ia bermimpi, ia terus memikirkan perkataan Makdari, di mimpinya itu.
Sementara
itu, setelah kematian ayahnya Lela, Lela hidup dengan kesengsaraan. Ibu tiri
dan kedua kaka tirinya memperlakukan lela seperti pembantu. Pada suatu siang…..
Ijah
: (dengan lembut) “Lela.. lagi ngapain?”
Lela
: “masa gabisa liat sih, nih nih lagi nyapu” (sambil mengarahkan sapu ke muka
Ijah)
Ijah
: (mendorong sapu ke muka Lela) “heh, punya sopan santun ga sih? Disekolahin
dimana sih?” (sambil mendorong Lela ke belakang)
“Prang…”
Tiba-tiba guci kesayangan Masitoh jatuh dari meja dan hancur lebur.
Ijah
: “ups… mamih liat nih kelakuan si Lela”
Masitoh dan Ipeh pun datang menghampiri
Lela dan Ijah di ruang tamu.
Masitoh
: “ini kenapa guci mamih pecah?”
Ijah
: “mamih pasti tau kan ini kelakuan siapa?”
Ipeh
: “ Lela ya kak?”
Ijah
: “bener bangeet”
Masitoh
: “bener Lela kamu yang mecahin guci saya?”
Lela
: “eh… eh…tadi mih, ka...”
Masitoh
: (memotong perkataan Lela) “mamih, mamih, aku tuh bukan mamih kamu. Mulai
sekatang jangan panggil aku mamih tapi bos ma..si..toh..”
Lela
: “ia mih, eh bos masitoh”
Ipeh
: “kurang monyong”
Ijah
: “kaya gini nih”
Ijah
dan Ipeh : “boos maa sii tooh”
Lela
: “booooos maaaaa siiiii toooooh”
Masitoh
: “ ia bener gitu”
Kembali kepembicaraan awal, yaitu guci
yang pecah.
Masitoh
: “heh cadel, jadi bener nih kamu yang mecahin guci kesayangan saya?”
Lela
: “emm.. saya, emm.. ga ga se sengaja bos masitoh”
Ipeh
: “dia bohong mih, aku liat tadi dia sengaja nyenggol guci kesayangan mamih”
Ijah
: “bener banget mih mana ada maling yang ngaku”
Ipeh
: “ia, kalau maling ngaku penjara penuh kalee”
Masitoh
: “benari-beraninya kamu ya. Udah mencahin guci saya ngebohong lagi”
Ijah
dan Ipeh : “tuh denger”
Masitoh
: “kamu tuh dirumah ini cuman numpang, makanya jangan sekali-kali lagi
bertingkah”
Lela
: “Iya, bos masitoh…”
Malam harinya Lela menangis dikamarnya,
dan Makdari pun datang…
Makdari
: “hey, ada apa kok nangis?”
Lela
: “aku lagi sedih makdari”
Makdari
: “sedih? Ayolah ceritakan semua masalah mu padaku”
Lela
: “iya, kenapa ya…semua yang ada di rumah ini benci sama aku, memang nya aku
salah apa?
Makdari
: “memang apa
yang sudah terjadi?”
Lela
: “tadi siang aku tidak sengaja menyenggol guci karena di dorong ka Ijah,
tetapi mamih tidak percaya malah menuduh ku yang tidak-tidak. Lalu tadi mamih juga
bilang kalau aku disini cuman numpang. Hu hu
aku ingin ayah kembali” (tangisan Lela semangkin kencang )
Makdari
: “sudah-sudah jangan berpikir yang tidak mungkin terjadi. Yang pasti kebenaran
akan selalu menang”
Lela
: “tapi kan…”
Makdari
: “tenang, setelah ini sesuatu akan terjadi dan akan mengubah kehidupan mu”
Lela
: “iya, aku akan terus bersabar sambil menunggu keajaiban itu datang”
Makdari
: “yasudah kalau begitu aku pulang dulu yaa, muah”
Lela
: “ih Makdari genit”
Setelah
Makdari pergi, Lela segera tidur. Karena jika ia bangun kesiangan besok, ia
akan kena marah ibu tiri dan kedua kaka tirinya lagi.
Sementara
itu di kerajaan Tangkil, Encep memutuskan untuk menanyakan tentang mimpinya
kepada Dadang dan Dudung. Di kamar Encep….
Dadang dan Dudung sedang lewat di kamar Encep
Encep
: “hey, kalian sini deh”
Dadang,
Dudung : “iya yang mulia”
Encep
: “ada yang mau aku omongin sama kalian, sini duduk”
Dadang,
Dudung : “iya yang mulia”
Dadang
: “memang apa yang ingin yang mulia tanyakan kepada kami?”
Encep
: “jadi gini, beberapa hari yang lalu aku bermimpi didatangi Makdari”
Dudung
: “lalu apa yang terjadi yang mulia”
Encep
: “makdari bilang kalau aku harus mencari gadis yang memiliki keunikan yang sama seperti aku”
Dadang
: “memangnya keunikan yang mulia apa?”
Dudung
: (langsung berdiri dan mengacungkan jari ke atas) “a aku tau
yang mulia”
Encep
: “apa?”
Dudung
: “CADEL, hehe”
Encep
: “wah! Kamu bener juga ya. Aku ini kan cadel, berarti aku harus mencari
seorang gadis yang cadel juga”
Dadang
: “iya yang mulia”
Encep
: “besok segera adakan sayembara untuk mencari gadis yang cadel. Tetapi tidak perlu membuat acara besar-besaran, cukup dengan mendatangi
rumah-rumah yang ada seorang gadis nya”
Dadang,
Dudung : (berdiri,
sambil hormat kepada Encep) “siap yang
mulia, akan segera kami laksanakan”
Setelah
Encep memberikan tugas kepada kedua pengawalnya yang setia, keesokan harinya
segera diadakan sayembara untuk mencari gadis cadel.
Sudah
tengah hari Dadang dan Dudung mencari, tetapi tidak juga ketemu. Hingga mereka
sampai di pasar disebuah desa, yang bernama desa Citugu.
Dudung
: “Dang kita duduk disini dulu ya, capek”
Dadang
: “iya deh”
Saat itu kebetulan Lela juga sedang ke
pasar disuruh membeli telur. Di pasar Lela sedang berjalan melewati Dadang dan
Dudung yang sedang duduk.
Dudung
: “neng, neng maaf mau nanya”
Lela
: “iya, mau nanya apa?”
Dadang
: “iya mau nanya, kalau alamat ini dimana ya?” (sambil menyodorkan kertas yang
beisi alamat)
Lela
: “yang mana?”
Dadang
: “yang ini”
Lela
: “oh alamat ini, ini kan alamat saya”
Dadang
: “Alhamdulillah ya Dung, akhirnya kita menemukan orang yang mempunyai alamat
ini”
(tetapi
saat itu Dadang dan Dudung tidak tahu kalau Lela sebenar nya cadel, karena dari
tadi Lela belum ngomong ‘r’)
Lela
: “memangnya ada apa?”
Dudung
: “kita lagi ada misi dari Handsome Prince”
Dadang
: “gimana kalau kita ngomongin nya dirumah aja, oh iya nama kamu siapa?”
Lela
: “nama saya Lela”
Sesampainya
dirumah, Lela menyuruh Dadang dan Dudung masuk kerumah nya, sementara ia
menyiapkan minum. Tiba-tiba Ipeh dan Ijah datang menghampiri….
Ijah
: “kalian siapa?”
Dadang
: “kami pengawal Handsome Price dari kerajaan Tangkil”’
Ipeh
: “emangnya kalian mau apa kesini?”
Dudung
: “kami mencari gadis yang memiliki keunikan, yaitu cadel untuk menjadi
pasangan hidup pangeran”
Ijah dan Ipeh pun saling memandang.
Ijah,Ipeh : (berbicara pura-pura
cadel)“sebental yaa”
Lalu Ijah dan Ipeh pun pergi ke kamar Masitoh
untuk member tahu hal yang baru saja terjadi.
Ijah,
Ipeh : (memanggil dengan lebay) “mamih, mamih di depan ada pegawal dari
kerajaan Tangkil”
Masitoh
: “emangnya mereka mau apa kesini?”
Ijah
: “mereka kesini mencari gadis cadel untuk menjadi pendamping hidup pangeran”
Ipah
: “iya mih tadi juga, kita pura-pura cadel”
Masitoh
: “iya, iya bagus, ayo sekarang kita ke ruang tamu”
Sementara Masitoh, Ijah dan Ipeh mengobrol
di kamar, Lela kembali dari dapur….
Lela
: “ini minumnya tuan-tuan”
Dudung
: “iya, terimakasih”
Lela
: “lalu sebenarnya misi apa yang kalian maksud”
Dadang
: “jadi begini, kami adalah pengawal kerajaan dari kerajaan Tangkil”
Dudung
: “kami datang kesini atas perintah pangeran untuk mencari seorang gadis yang
cadel”
Lela
: “hah? Cadel, sebenarnya aku juga cadel. Tapi kenapa harus gadis cadel?”
Dadang
: “Dung, kenapa kita tidak sadar dari tadi ya kalau dia itu cadel”
Dudung
: “ia ya, mungkin itu semua tertutupi oleh ketulusan dan kebaikan hatinya”
Dadang
: “tapi sekarang aku jadi bingung. Dirumah ini ada tiga gadis yang cadel, kita
harus pilih yang mana?”
Lela
: “tiga gadis? Maksud kalian aku dan keduan kakak ku? Tetapi mereka kan ti….”
Ditengah-tengah
perkataan Lela, Masitoh, Ijah dan Ipeh datang menghampiri. Dan Masitoh pun
langsung berteriak.
Masitoh
: “Lela, Lela benar kan kedua kakak mu ini cadel?” (sambil melotot kepada Lela)
Lela
: “eh…”
Ipeh
: “Lela sejak kecil kita bertiga memang cadel kan?”
Lela
: “tapi…”
Ijah
: “udah deh Lela, kamu tidak usah menutup-nutupi kekurangan kita”
Dudung
: “sudah-sudah kok jadi rebut gini”
Dadang
: “aduh aku jadi makin pusing nih… Gimana kalau kita adakan tes saja? Untuk menetukan
siapa yang paling pantas”
Dudung
: “baiklah, tes ini akan dilaksanakan di kerajaan Tangkil besok. Jangan sampai tidak datang”
Dan mereka
pun setuju dengan diadakannya tes tersebut. Akhirnya dua pengawal itu kembali
ke kerajaan Tangkil. Saat itu Lela sudah mulai menyadari bahwa peristiwa inilah
yang dimaksud Makdari.
Keesokan
harinya mereka datang ke kerajaan Tangkil untuk mengikuti tes. Sesampainya
disana, mereka bertemu dengan Dadang dan Dudung dan dipersilahkan masuk. Dan
mereka pun berkumpul bersama pangeran.
Encep
: “dari pada kita ngulur-ngulur waktu lebih baik kita mulai saja”
Mereka pun memulai tes yang diberikan oleh
pangeran Encep, kemudian ia menyerahkan teks yang
harus dibaca oleh Ijah, Ipeh dan Lela. teks itu
berisi kalimat “ULAR KOBRA MELINGKAR DIATAS PAGAR BUNDAR”.
Encep
: “baiklah langsung saja, Ipeh maju”
Ipeh
: “ulal kobla melingkal diatas pagal bundar, ups”
Saat Ipeh akan mengatakan kata “bundar”
makdari menyihir Ipeh agar Ipeh tidak berbicara pura-pura
cadel.
Ijah
: “ih dasar bego, ups”
Ipeh
: “itu kakak juga bego, tadi ngomong rrrr”
Masitoh
: “dua dua nya udah bego gausah saling nyalahin”
Ijah,Ipeh : “emak nya juga bego”
Encep
: “oh…jadi kalian telah berdusta kepada saya. Di kerajaan ini tidak
mempersilahkan orang-orang tidak jujur masuk. Pengawal cepat bawa mereka
keluar!”
Dadang dan Dudung segera menarik Masitoh,
Ijah, Ipeh keluar kerajaan.
Ipeh
: “yang mulia ini tidak seperti yang engkau pikirkan”
Ijah
: “maaf kan kami yang mulia”
Telapi pangeran Encep tidak menghiraukan
perkataan mereka.
Encep
: “berarti tinggal satu orang yang belum aku tes”
Lela
: “baiklah pangeran”
Lela segera mengambil teks tersebut, tetapi ketika Lela baru akan bicara Encep
berkata….
Encep
: “stop! Kamu tidak perlu membaca teks tersebut, kamu
sudah lulus. Dan kamu lah orang yang selama ini aku cari”
Lela
: “memangnya kenapa pangeran?”
Encep
: “beberapa minggu yang lalu aku bermimpi didatangi Makdari, ia berkata kalau aku harus mencari seorang gadis yang cadel”
Lela
: “hah Makdari? Aku juga pernah didatangi Makdari”
Encep
: “benarkah? Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk hidup bersama”
Akhirnya Lela dan Encep pun menikah, dan
hidup bahagia menjalin kasih dan cinta yang suci dan abadi.
-THE END-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar