Sabtu, 12 April 2014

Sayap Pelindungmu



                Yeyeye Lalala, yeah hari ini adalah hari pertama aku masuk SMA. Wow setelah di MOS selama satu minggu akhirnya selesai juga. Duh udah nggak sabar buat belajar dan sekolah di sekolah yang baru. Well, aku sekolah di SMA Tunas Bangsa.
                “KRINGGGGG!!!” suara alarmku bunyi.
*tarik selimut lagi*
                “KRINGGGG!!!” suara alarmku bunyi lagi.
*liat jam, tarik selimut lagi*
                “KRINGGG!!!” suara alarmku bunyi lagi untuk yang ketiga kalinya.
“Aaaaa. Aku telat” teriakku. Pada saat itu jam menunjukan jam 6.30 pagi.
                Langsung saja aku pergi mandi dan langsung ganti baju dengan seragam SMA baruku. Suasana kamar begitu berantakan so, aku harus beresin dulu. “Bodo amatlah mau rapi atau nggak dari pada telat” pikirku.
“Nek, aku berangkat dulu yaa!” teriakku.
“Nggak sarapan dulu Tas?” Tanya nenekku.
“Nggak Nek, Tasya udah telat nih. Dah nenek”  sambil cium tangan nenek.
                Dijalan.. Mana Busway penuh, terpaksa nunggu. Udah telat begini, ya sudahlah pasrah aja. Nggak lama Busway datang, dan aku langsung masuk ke dalem Busway itu. “ini Busway kok parah banget sih? Tumben banget penuh” Tanyaku dalam hati. Karena penuh, aku pun berdiri.
                Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku..
“Hey!” sapanya.
“Eh” kataku kaget.
“Maaf ya kamu siapa?” Tanyaku lagi.
“Kamu anak SMA Tunas Bangsa ya?” sambil liat logo sekolahku.
“Iya, maaf kamu siapa ya?”
                Dia nggak jawab dan cuma senyum,  aku pun bingung karena dia pake seragam SMA tapi karena pake jaket jadi nggak keliatan sekolah mana Tampangnya sih lumayan coganlah. Tapi yaudahlah nggak usah dibahas. Dan tiba-tiba dia udah nggak ada disamping aku lagi. Sosok yang penuh misterius.
Sampai disekolah…
                Baru lewatin gerbang sekolah, tiba-tiba bel udah bunyi gitu aja. Aku pun langsung lari pontang-panting nyari kelas X-6. Untung saja ketika aku masuk kelas itu belum ada guru yang masuk. Aku melihat orang yang tadi di Busway. Tempat duduk hampir penuh dan aku segera mencari tempat duduk yang nggak begitu di depan dan nggak terlalu belakang. Orang misterius tadi duduk di depan, tapi dia nggak duduk deket aku. Akhirnya wali kelas pun datang, wali kelasku perempuan yang bernama Miss Catherine atau Miss Katy. Dia orang Indo, penampilannya menarik dan dia juga cantik. Miss katy pun langsung menyuruh anak-anak untuk memperkenalkan diri.
                Dan tiba saat pada anak misterius itu untuk memperkenalkan diri.
“Pagi, nama saya Reuben Nathaniel panggil aja Reu. Saya berasal dari SMP Regina Pacis” Katanya.
“Oh, jadi nama dia Reuben. Dia manis juga” pikirku. Dan tiba saatnya aku yang perkenalkan diri.
“Selamat pagi semuanyaJ. Nama saya Tasya Hira, panggil aja Tasya. Saya berasal dari SMP Kesatuan” kataku. Ketika aku memperkenalkan diri Reu melihat kearahku dan senyum, tapi  senyumnya dia itu misterius.
                Miss Katy pun mengatur denah duduk murid di kelas, ternyata aku duduk sama Reuben. Akupun langsung menyapanya.
“Oh jadi lo yang tadi namanya Reu” kataku pada dia.
:) Dia senyum “ iya, kenapa emang itu gw?” tanyanya.
“Nggak kenapa-napa sih!” kataku.
“Lo manis” Katanya pelan.
“Hah? Apa gw nggak denger” kataku.
“Nggak, udahlah lupain” katanya.
“Ih bilang apa ih? Jangan bikin orang penasaran deh!” paksaku padanya.
“Bukan apa-apa kok!”
“Ih Reu apa Reu tadi lo ngomong apa?” kataku mendekat pada Reu.
Tiba –tiba dia menoleh kearahku, dan wajahku tepat berhadapan dengan wajahnya. Dia melihatku dengan tatapan misterius itu lagi yang membuatku deg degan. Dan dia hanya tersenyum J dan langsung pergi dengan temannya.
Pulang sekolah…
“Eh, Tas pulang bareng yuk?” Ajak temanku yang bernama Sonya.
“Ayo, bentar beresin buku dulu. Eh iya, Reu gw pulang duluan ya! Dah” Kataku.
“Iya, dah juga Tas” jawabnya sambil tersenyum. J
~
Pada suatu hari, setelah berbulan-bulan aku  bersekolah di SMA itu. Tiba-tiba ada yang menyapaku.
“Pagi Tas!” Sapa seseorang yang tak ku kenal suaranya.
“Iya, pagi juga. Maaf siapa ya?” tanyaku padanya.
“Hehe, gw kakak kelas lo. tau nggak gw yang mana?”
Aku diam sejenak untuk mengingat kalau dia ini siapa.
“Hmm, gw nggak inget kak! Hehehe maklum gw agak pelupa” jawabku.
“Wah, kudu di MOS lagi nih, haha. Masa nggak inget sama kakak kelas lo yang pernah jailin lo waktu MOS?!” katanya.
“Oh, hahaha iya baru inget gw. Oh lo kak, Kak Audrian kan?”
“Wah, baru inget lo. Kemana aja mbak?” katanya.
“Hahaha, yaampun kak maklum kek gw rada amnesia sesaat gitu!”
“Ceilah gaya banget bahasa lo, ngomong-ngomong dapet kelas berapa lo? “
“X-6 Kak” jawabku.
“Wah, hahaha sabar ya lantai 3. Tiap hari olahraga nih, tapi bagus lah supaya lo kurus.” Katanya meledek.
“Wah, anjiir ya si Kakak. Gw nggak gendut kak, udah sexy begini gimana sih.” jawabku dengan nada bercanda.
Ketika sedang asyik mengobrol dengan Kak Audrian, tiba-tiba Reu lewat dan melihat dengan sinis dan langsung pergi. Aku bingung melihat tingkah laku Reu.
Sesampainya di kelas..
“Hey, tadi sinis banget sih!” Kataku.
“Apa? Tadi? Lo liat gw Tas?” tanyanya kaget.
“Yaiyalah Reu, lo segede gitu masa gw kaga liat, wah parah banget lo.”
“Hmm, tadi ya. Hahaha ga apa-apa kok, emang gitu kali tampang gw.” Jawabnya.
“Masa sih tampang lo gitu? Menurut gw lo cukup manis. :)” kataku.
“Hah? Nggak salah denger nih?” tanyanya padaku.
“Hmm, nggak jadi deh gw ralat deh!”
“Yaelah, dasar labil.” Katanya.
                Saat pelajaran Biologi di lab, aku dan Reuben kebagian mikroskop berdua, maklum mikroskop di sekolahku cuma ada 15 dan murid di kelas cuma ada 25 orang.
“Eh, Reu ini bentuk otot binatang atau tumbuhan sih?” Kok gw bingung.
“Ini tumbuhan” jawabnya singkat dan sibuk dengan mikroskopnya.
“Oh, gitu.. Kalau yang ini apa? “ tanyaku lagi.
“Padi.”Jawabnya lebih singkat.
“Bebep Reu kamu kenapa?” tanyaku dengan heran.
“Apa bebep-bebep!” jawabnya dengan nada suara membentak.
Seketika aku terdiam, dan tak berbicara lagi. Dan setelah keluar lab.aku langsung saja berganti pakaian dan bergegas ke ruangan kelas. Dan Sonya bertanya kepadaku.
“Lo kenapa Tas, kok kayak yang ketakutan gitu?”
*menangis*
“Ih lo kenapa tas? Ceita sama gw, lo ada masalah?” tanyanya heran dan kebingungan melihatku menangis tiba-tiba.
*masih menangis*
“Tenangin diri dulu deh, kalo lo udah tenang baru cerita. Tarik nafas, buang pelan-pelan ya!”.
Aku pun mengikuti perintah Sonya.
“Udah baikan Tas?”tanyanya padaku.
“Hmm, udah.” Jawabku.
“Yaudah, mau cerita nggak?” Tanya Sonya.
“Iya, jadi tadi pas di lab.aku nanya sama Reu, dia jawab tapi singkat banget. Nah kan udah gitu aku nanya dia kenapa? Eh, dia jawab kayak ngebentak gitu. Apa aku salah ya Son?” Tanyaku pada Sonya.
“Ya nggak lah, gw bingung sama itu orang ganteng sih tapi sayang agak aneh sama misterius gitu. Yaudah lo jangan nangis lagi Tas, be strong beib!” sonyapun menenangkanku.
Tiba-tiba Reuben datang dan memberi isyarat pada Sonya, dan Sonya pun meninggalkan kami berdua. Ketika itu sore hari jam 2.30 dikelas sudah tinggal beberapa orang.
“Gw denger katanya lo tadi nangis ya? Karena gw ya?” tanyanya dia.
Aku hanya menunduk dan tak menjawab pertanyaanya, lalu ia mengangkat kepalaku dan menatapku dengan mata coklatnya yang indah, aku tak sanggup untuk menjelaskannya.
“Maaf Tas, gw tadi nggak maksud buat ngebentak lo. Maaf gw nggak sengaja.” Katanya dengan tatapan mata yang membuatku tak kuasa ingin memeluknya.
*menangis* “Aku tadi kaget” jawabku yang masih memeluk Reuben.
“Maaf Tas, gw eh aku nggak bermaksud buat bikin kamu kaget. Udah jangan nangis lagi dong” bujuknya padaku.
Aku pun melepaskan pelukanku radinya, tapi Reuben memelukku dengan erat.
“Reu, kenapa kamu nggak lepasin pelukkan kamu. Aku sesak nih” kataku dengan manja.
“Tapi janji yaa nggak akan nangis lagi, jadi cewek harus kuat ya!” ia menasehatiku sepertinya.
“Iya, tapi kamu juga jangan tiba-tiba ngebentak gitu, untung aja aku nggak jantungan.” Kataku
“Kamu lucu banget sih, aku sayang deh.” jawabnya sambil mencubit pipiku.
“Aku juga. Tapi Reu, kamu nggak mau lepasin pelukan ini? Aku udah sesak nih.”
“Hmm, gimana yah? Aku masih pengen meluk kamu, lagian kalau kamu sesak nafas kan masih ada aku yang bisa bantu bikin nafas buatan aku kan pingin jadi sayap pelindungmu.” Ia menjawab dengan senyum manisnya.
“Ih, dasar ya Reu bisa aja ngegombal.”
“Tadi dibilang bebep, tapi kok sekarang nggak ya?”
“Oh, jadi kamu mau di panggil bebep nih?”tanyaku dengan manja.
“Iyalah.”
“Nggak ah.”
Tiba-tiba ia mencium pipi kananku, aku kaget dibuatnya. Beberapa orang temanku dikelas langsung menyorak-nyorakkan suara “Ciee… cie, so sweet banget sih!” aku tak dapat berkata apa-apa.
Dalam pelukannya, Reuben pun berbisik padaku “Aku akan selalu jadi sayap pelindungmu”.

Jumat, 04 April 2014

Drama Cadellela



Suatu hari, di Desa Citugu, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Negara Indonesia, Benua Asia, Planet Bumi hiduplah seorang gadis cantik dengan ayah, ibu tiri, dan kedua kaka tirinya. Keluarga itu hidup penuh dengan kesandiwaraan.

      Suatu malam, Lela sedang memasak lele untuk makan malam keluarganya. Setelah masakan selesai ia menghidangkannya. Sementara itu ibu tiri dan kedua kaka tirinya sedang merencanakan sesuatu. Tiba-tiba…

Ijah : (memanggil dengan lembut) “Lela mau nggak bantuin aku bikin minuman?”

Lela : “ya, tentu saja ka”

      Sementara itu Masitoh dan Ipeh akan memberikan racun kepada makanan ayahnya Lela.

Masitoh : “beb racunnya udah di beli belum?”

Ipeh : “udah mih, tapi di tokonya lagi habis, jadi aku beli racun tikus aja deh”

Masitoh : “yaudah masukin sebelum si upik abu dateng”

Ipeh : “aku takut mih, tangan ku gemeteran. Mamih aja ya”

Masitoh : “dasar anak ga guna. Sini sama mamih aja”

      Masitoh pun menaburkan racun ke makanan ayahnya Lela. Sementara Lela dan Ijah membawa minuman yang sudah mereka buat. Masitoh memanggil sang suami.

Masitoh : “pipi Kosim sini dong… makanan nya udah siap nih”

Kosim : “ia sebentar istriku”

      Kosim pun datang dan semua duduk di meja makan.

Kosim : “emm..kayanya lelenya enak nih”

Ijah,Ipeh : “iya dong kan masakan lelenya ala Lela”

Kosim : “ia ayah coba ya”

      Setelah semua selesai makan, tiba-tiba ayahnya Lela kejang-kejang. Lela berusaha menenangkan ayahnya tapi ayah tidak bisa ditolong dan meninggal. Masitoh, Ijah dan Ipeh pura-pura menangis, padahal di hati kecil mereka, mereka merasa senang.

     

Sementara itu di Kerajaan Tangkil, Desa Cinagara, Kecamatan Caringin, Kabupaten bogor tinggallah seorang handsome prince yang bernama Encep Sugencep Semuacewekepencep. Ia memiliki 2 pengawal yang sangat setia yang bernama Dadang dan Dudung. Suatu hari di halaman kerajaan….

Encep : “Dang, Dung sini deh!”

Dudung : “ada apa yang mulia?

Encep : “saya teh ingin punya pujaan hati, tapi sudah lama mecari ga ada yang sreg”

Dadang : “apa ini teh yang sereg? Celananya bukan?

Dudung : “ngocol kamu teh”

Encep :  “udah-udah jangan bertegkar, kaya tom and jerry aja, tapi saya yakin kalau jodoh pasti dateng sendiri

      Pada malam harinya Encep bermimpi bertemu dengan Makdari, dia diberi petunjuk bahwa ia harus mencari gadis yang memiliki keunikan yang sama dengan dirinya.

Makdari : “hai…Encep”

Encep : “kamu kok tau nama aku?”

Makdari : “ia donk, makdari gitu lho, kamu kan yang suka update galau di facebook”

Encep : “wah, nih makdari gaul juga”

Makdari : “udah ah jangan bercanda terus. Aku punya sesuatu buat kamu.

Encep : “apa?”

Makdari : “wanipiro? He he sekarang serius ya, jika kamu mau mendapatkan kebahagiaan hidup “pasangan hidup” kamu harus mencari seorang gadis yang memiliki keunikan yang sama seperti kamu”

Encep : (bertanya dalam hati) “keunikan yang sama? Maksudnya?”

              (bertanya kepada makdari) “makdari, maksud…..”

      Tetapi saat Encep ingin menanyakan maksud perkataan Makdari, Makdari telah menghilang. Dan Encep pun terbangun dari tidurnya. Setelah ia bermimpi, ia terus memikirkan perkataan Makdari, di mimpinya itu.

      Sementara itu, setelah kematian ayahnya Lela, Lela hidup dengan kesengsaraan. Ibu tiri dan kedua kaka tirinya memperlakukan lela seperti pembantu. Pada suatu siang…..

Ijah : (dengan lembut) “Lela.. lagi ngapain?”

Lela : “masa gabisa liat sih, nih nih lagi nyapu” (sambil mengarahkan sapu ke muka Ijah)

Ijah : (mendorong sapu ke muka Lela) “heh, punya sopan santun ga sih? Disekolahin dimana sih?” (sambil mendorong Lela ke belakang)

      “Prang…” Tiba-tiba guci kesayangan Masitoh jatuh dari meja dan hancur lebur.

Ijah : “ups… mamih liat nih kelakuan si Lela”

      Masitoh dan Ipeh pun datang menghampiri Lela dan Ijah di ruang tamu.

Masitoh : “ini kenapa guci mamih pecah?”

Ijah : “mamih pasti tau kan ini kelakuan siapa?”

Ipeh : “ Lela ya kak?”

Ijah : “bener bangeet”

Masitoh : “bener Lela kamu yang mecahin guci saya?”

Lela : “eh… eh…tadi mih, ka...”

Masitoh : (memotong perkataan Lela) “mamih, mamih, aku tuh bukan mamih kamu. Mulai sekatang jangan panggil aku mamih tapi bos ma..si..toh..”

Lela : “ia mih, eh bos masitoh”

Ipeh : “kurang monyong”

Ijah : “kaya gini nih”

Ijah dan Ipeh : “boos maa sii tooh”

Lela : “booooos maaaaa siiiii toooooh”

Masitoh : “ ia bener gitu”

      Kembali kepembicaraan awal, yaitu guci yang pecah.

Masitoh : “heh cadel, jadi bener nih kamu yang mecahin guci kesayangan saya?”

Lela : “emm.. saya, emm.. ga ga se sengaja bos masitoh”

Ipeh : “dia bohong mih, aku liat tadi dia sengaja nyenggol guci kesayangan mamih”

Ijah : “bener banget mih mana ada maling yang ngaku”

Ipeh : “ia, kalau maling ngaku penjara penuh kalee”

Masitoh : “benari-beraninya kamu ya. Udah mencahin guci saya ngebohong lagi”

Ijah dan Ipeh : “tuh denger”

Masitoh : “kamu tuh dirumah ini cuman numpang, makanya jangan sekali-kali lagi bertingkah”

Lela : “Iya, bos masitoh…”

      Malam harinya Lela menangis dikamarnya, dan Makdari pun datang…

Makdari : “hey, ada apa kok nangis?”

Lela : “aku lagi sedih makdari”

Makdari : “sedih? Ayolah ceritakan semua masalah mu padaku”

Lela : “iya, kenapa ya…semua yang ada di rumah ini benci sama aku, memang nya aku salah apa?

Makdari : “memang apa yang sudah terjadi?”

Lela : “tadi siang aku tidak sengaja menyenggol guci karena di dorong ka Ijah, tetapi mamih tidak percaya malah menuduh ku yang tidak-tidak. Lalu tadi mamih juga bilang kalau aku disini cuman numpang. Hu hu aku ingin ayah kembali” (tangisan Lela semangkin kencang )

Makdari : “sudah-sudah jangan berpikir yang tidak mungkin terjadi. Yang pasti kebenaran akan selalu menang”

Lela : “tapi kan…”

Makdari : “tenang, setelah ini sesuatu akan terjadi dan akan mengubah kehidupan mu”

Lela : “iya, aku akan terus bersabar sambil menunggu keajaiban itu datang”

Makdari : “yasudah kalau begitu aku pulang dulu yaa, muah”

Lela : “ih Makdari genit”

      Setelah Makdari pergi, Lela segera tidur. Karena jika ia bangun kesiangan besok, ia akan kena marah ibu tiri dan kedua kaka tirinya lagi.

      Sementara itu di kerajaan Tangkil, Encep memutuskan untuk menanyakan tentang mimpinya kepada Dadang dan Dudung. Di kamar Encep….

Dadang dan Dudung sedang lewat di kamar Encep

Encep : “hey, kalian sini deh”

Dadang, Dudung : “iya yang mulia”

Encep : “ada yang mau aku omongin sama kalian, sini duduk”

Dadang, Dudung : “iya yang mulia”

Dadang : “memang apa yang ingin yang mulia tanyakan kepada kami?”

Encep : “jadi gini, beberapa hari yang lalu aku bermimpi didatangi Makdari”

Dudung : “lalu apa yang terjadi yang mulia”

Encep : “makdari bilang kalau aku harus mencari gadis yang memiliki keunikan yang sama seperti aku”

Dadang : “memangnya keunikan yang mulia apa?”

Dudung : (langsung berdiri dan mengacungkan jari ke atas) “a aku tau yang mulia”

Encep : “apa?”

Dudung : “CADEL, hehe”

Encep : “wah! Kamu bener juga ya. Aku ini kan cadel, berarti aku harus mencari seorang gadis yang cadel juga”

Dadang : “iya yang mulia”

Encep : “besok segera adakan sayembara untuk mencari gadis yang cadel. Tetapi tidak perlu membuat acara besar-besaran, cukup dengan mendatangi rumah-rumah yang ada seorang gadis nya”

Dadang, Dudung : (berdiri, sambil hormat kepada Encep) “siap yang mulia, akan segera kami laksanakan”

      Setelah Encep memberikan tugas kepada kedua pengawalnya yang setia, keesokan harinya segera diadakan sayembara untuk mencari gadis cadel.

      Sudah tengah hari Dadang dan Dudung mencari, tetapi tidak juga ketemu. Hingga mereka sampai di pasar disebuah desa, yang bernama desa Citugu.

Dudung : “Dang kita duduk disini dulu ya, capek”

Dadang : “iya deh”

      Saat itu kebetulan Lela juga sedang ke pasar disuruh membeli telur. Di pasar Lela sedang berjalan melewati Dadang dan Dudung yang sedang duduk.

Dudung : “neng, neng maaf mau nanya”

Lela : “iya, mau nanya apa?”

Dadang : “iya mau nanya, kalau alamat ini dimana ya?” (sambil menyodorkan kertas yang beisi alamat)

Lela : “yang mana?”

Dadang : “yang ini”

Lela : “oh alamat ini, ini kan alamat saya”

Dadang : “Alhamdulillah ya Dung, akhirnya kita menemukan orang yang mempunyai alamat ini”

(tetapi saat itu Dadang dan Dudung tidak tahu kalau Lela sebenar nya cadel, karena dari tadi Lela belum ngomong ‘r’)

Lela : “memangnya ada apa?”

Dudung : “kita lagi ada misi dari Handsome Prince”

Dadang : “gimana kalau kita ngomongin nya dirumah aja, oh iya nama kamu siapa?”

Lela : “nama saya Lela”

      Sesampainya dirumah, Lela menyuruh Dadang dan Dudung masuk kerumah nya, sementara ia menyiapkan minum. Tiba-tiba Ipeh dan Ijah datang menghampiri….

Ijah : “kalian siapa?”

Dadang : “kami pengawal Handsome Price dari kerajaan Tangkil”’

Ipeh : “emangnya kalian mau apa kesini?”

Dudung : “kami mencari gadis yang memiliki keunikan, yaitu cadel untuk menjadi pasangan hidup pangeran”

      Ijah dan Ipeh pun saling memandang.

Ijah,Ipeh : (berbicara pura-pura cadel)“sebental yaa”

      Lalu Ijah dan Ipeh pun pergi ke kamar Masitoh untuk member tahu hal yang baru saja terjadi.

Ijah, Ipeh : (memanggil dengan lebay) “mamih, mamih di depan ada pegawal dari kerajaan Tangkil”

Masitoh : “emangnya mereka mau apa kesini?”

Ijah : “mereka kesini mencari gadis cadel untuk menjadi pendamping hidup pangeran”

Ipah : “iya mih tadi juga, kita pura-pura cadel”

Masitoh : “iya, iya bagus, ayo sekarang kita ke ruang tamu”

      Sementara Masitoh, Ijah dan Ipeh mengobrol di kamar, Lela kembali dari dapur….

Lela : “ini minumnya tuan-tuan”

Dudung : “iya, terimakasih”

Lela : “lalu sebenarnya misi apa yang kalian maksud”

Dadang : “jadi begini, kami adalah pengawal kerajaan dari kerajaan Tangkil”

Dudung : “kami datang kesini atas perintah pangeran untuk mencari seorang gadis yang cadel”

Lela : “hah? Cadel, sebenarnya aku juga cadel. Tapi kenapa harus gadis cadel?”

Dadang : “Dung, kenapa kita tidak sadar dari tadi ya kalau dia itu cadel”

Dudung : “ia ya, mungkin itu semua tertutupi oleh ketulusan dan kebaikan hatinya”

Dadang : “tapi sekarang aku jadi bingung. Dirumah ini ada tiga gadis yang cadel, kita harus pilih yang mana?”

Lela : “tiga gadis? Maksud kalian aku dan keduan kakak ku? Tetapi mereka kan ti….”

      Ditengah-tengah perkataan Lela, Masitoh, Ijah dan Ipeh datang menghampiri. Dan Masitoh pun langsung berteriak.

Masitoh : “Lela, Lela benar kan kedua kakak mu ini cadel?” (sambil melotot kepada Lela)

Lela : “eh…”

Ipeh : “Lela sejak kecil kita bertiga memang cadel kan?”

Lela : “tapi…”

Ijah : “udah deh Lela, kamu tidak usah menutup-nutupi kekurangan kita

Dudung : “sudah-sudah kok jadi rebut gini”

Dadang : “aduh aku jadi makin pusing nih… Gimana kalau kita adakan tes saja? Untuk menetukan siapa yang paling pantas”

Dudung : “baiklah, tes ini akan dilaksanakan di kerajaan Tangkil besok. Jangan sampai tidak datang”

      Dan mereka pun setuju dengan diadakannya tes tersebut. Akhirnya dua pengawal itu kembali ke kerajaan Tangkil. Saat itu Lela sudah mulai menyadari bahwa peristiwa inilah  yang dimaksud Makdari.

      Keesokan harinya mereka datang ke kerajaan Tangkil untuk mengikuti tes. Sesampainya disana, mereka bertemu dengan Dadang dan Dudung dan dipersilahkan masuk. Dan mereka pun berkumpul bersama pangeran.

Encep : “dari pada kita ngulur-ngulur waktu lebih baik kita mulai saja”

      Mereka pun memulai tes yang diberikan oleh pangeran Encep, kemudian ia menyerahkan teks yang harus dibaca oleh Ijah, Ipeh dan Lela. teks itu berisi kalimat “ULAR KOBRA MELINGKAR DIATAS PAGAR BUNDAR”.

Encep : “baiklah langsung saja, Ipeh maju”

Ipeh : “ulal kobla melingkal diatas pagal bundar, ups”

      Saat Ipeh akan mengatakan kata “bundar” makdari menyihir Ipeh agar Ipeh tidak berbicara pura-pura cadel.

Ijah : “ih dasar bego, ups”

Ipeh : “itu kakak juga bego, tadi ngomong rrrr”

Masitoh : “dua dua nya udah bego gausah saling nyalahin”

Ijah,Ipeh : “emak nya juga bego”

Encep : “oh…jadi kalian telah berdusta kepada saya. Di kerajaan ini tidak mempersilahkan orang-orang tidak jujur masuk. Pengawal cepat bawa mereka keluar!”

      Dadang dan Dudung segera menarik Masitoh, Ijah, Ipeh keluar kerajaan.

Ipeh : “yang mulia ini tidak seperti yang engkau pikirkan”

Ijah : “maaf kan kami yang mulia”

      Telapi pangeran Encep tidak menghiraukan perkataan mereka.

Encep : “berarti tinggal satu orang yang belum aku tes”

Lela : “baiklah pangeran”

      Lela segera mengambil teks tersebut, tetapi ketika Lela baru akan bicara Encep berkata….

Encep : “stop! Kamu tidak perlu membaca teks tersebut, kamu sudah lulus. Dan kamu lah orang yang selama ini aku cari”

Lela : “memangnya kenapa pangeran?”

Encep : “beberapa minggu yang lalu aku bermimpi didatangi Makdari, ia berkata kalau aku harus mencari seorang gadis yang cadel”

Lela : “hah Makdari? Aku juga pernah didatangi Makdari”

Encep : “benarkah? Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk hidup bersama”

      Akhirnya Lela dan Encep pun menikah, dan hidup bahagia menjalin kasih dan cinta yang suci dan abadi.



-THE END-