Sabtu, 04 Oktober 2014

TRUE STORY



                Hari itu sore menuju senja, agak mendung tapi tak hujan. Aku menunggu di parkiran mobil, sejuk sekali rasanya seperti aroma terapi, ntah bunga apa yang ditanam di parkiran itu. Tapi, itu membuatku lebih rileks dan nyaman. Aku menunggu harap-harap cemas, waktu itu umurku masih 5 tahun dan aku masih sekolah TK. Disampingku ada sepupu perempuan namanya Kiki dan orangtuanya, orangtuaku, kakak dari ibu, teh Ritha juga ada disana untuk menyemangatiku. Rasanya tenang sekali sore itu, tapi itu mungkin bukan setenang yang ada dipikiranku saat itu.
                Akhirnya pembayaran administrasi selesai, yang sebelumnya aku sudah cek beberapa kali sebelum hari ini tiba. Dan, perawat pun datang memanggil namaku. “Pasien Rafa! Ayo segera ,masuk ruangan.” Katanya seperti itu. Rasa cemas pun mulai menyelimutiku, rasa takut mulai ada dibenakku. Sebelum aku masuk ruangan aku tak sengaja bercanda gurau dengan Kiki walaupun hanya sebentar dan mungkin itu salah satu cara agar aku tidak tegang.
                Aku masuk ke dalam ruangan dengan Ibu dan Uwa Nunung, Uwa Nunung ini adalah kakak iparnya ibu. Beliau ini amat sangat sayang pada anak kecil, apalagi setelah ditinggal pergi oleh anak terakhirnya yang bernama Hery. Kalau pun ada mungkin Hery akan sebesar anak SMP sekarang. Perawat, ibu dan uwaku ini membantu aku untuk ganti baju dengan baju khusus pasien. Lucu warnanya hijau, aku suka warna hijau soalnya ntah kenapa rasanya tenang melihat warna hijau baju pasien ini. Setelah selesai berganti baju, akhirnya aku berpisah dengan ibu dan uwaku ini. Uwa Nunung sempat berkata “Jangan takut, jangan nangis Afa kan kuat!”. Itu kata-kata yang ku ingat sebelum aku memasuki ruangan itu.
                Aku pun  berjalan maju melangkah, selangkah demi selangkah ketakutan mulai menyapa benakku. Diluar aku melihat semuanya cemas melihatku, tapi rasanya aku tak mau menangis karena aku anak yang kuat. Diruangan itu semuanya sudah berpakaian warna hijau, dengan masker diwajahnya. Aku tak tahu itu siapa, mungkin ini tak penting. Akhirnya, aku disuruh berbaring diatas tempat tidur dengan banyak lampu disana. Rasanya silau sekali melihat banyak lampu disekitarku, disampingku ada sebuah tabung besar dengan respirator oksigen. Tiba-tiba datanglah seseorang lelaki, ntahlah itu seorang dokter atau perawat yang membawa suntikan. Dan ia berkata kepadaku, “Tangannya lemaskan ya! Jangan tegang supaya nggak sakit.” Aku hanya mengangguk saja. Akhirnya suntikan itu menyuntik pergelangan tanganku, dan dikedua kakiku. Lalu, aku pun disuruh memakai respirator. Awalnya aku menolak kataku “itu bau gas, nggak mau.” Tetapi, tak lama setelah aku memakainya aku tak ingat lagi apa yang terjadi. Rasanya aku bermimpi sangat panjang sekali, ntah berapa lama sampai akhirnya…
                Aku terbangun ketika operasi yang kujalani belum selesai, semua yang ada didalam ruangan itu panic melihat bius yang disuntikan kepadaku sudah habis. Awalnya aku tak merasakan apa-apa, tetapi rasanya badanku pun merasakan semuanya itu. Rasa sakit, rasa sedih, rasa takut, semuanya menjadi satu. Pada saat itu aku hanya bisa menangis menahan semua rasa itu. Sampai aku di pindahkan ke ruang rawat inap pasien, tetap saja rasanya masih terasa. Keluargaku yang sudah menunggu sedari tadi segera melihat keadaanku yang sedang menangis, semuanya menghiburku. Tapi, tak satupun ku hiraukan. Aku sempat berpikir “apa mereka nggak sadar ya? Aku disini kesakitan!”. Kata ibuku ketika itu, ayahku pingsan melihat keadaanku. Andai saja aku bisa melihatnya aku pasti tertawa geli hahaha. Tapi aku tak tahu kejadian apa setelah itu, kata ibu aku diberi obat bius dan akhirnya aku tertidur dan ketika aku bangun aku sudah berada dikamarku.
                Aku bersyukur sekali atas apa yang telah aku alami, aku masih diberi nyawa dan masih dibiarkan untuk hidup. Rasanya ini kesempatanku yang kedua untuk hidup. Dan akhirnya dokter mendiagnosa bahwa operasi yang kemarin aku alami itu gagal, jadi aku haruis menjalani operasi yang kedua. Operasi yang kedua diadakan sekitar bulan Agustus waktu itu aku baru masuk sekolah SD, dan Alhamdulillah operasi yang kedua ini berjalan lancer dan sukses.
                So, dari cerita aku tadi bisa nyimpulinkan? Hidup itu harus dijalani, jangan dibawa beban. Karena nggak semua orang dapet kesempatan kedua! TRIMS.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar