Hari itu sore menuju senja, agak
mendung tapi tak hujan. Aku menunggu di parkiran mobil, sejuk sekali rasanya
seperti aroma terapi, ntah bunga apa yang ditanam di parkiran itu. Tapi, itu
membuatku lebih rileks dan nyaman. Aku menunggu harap-harap cemas, waktu itu
umurku masih 5 tahun dan aku masih sekolah TK. Disampingku ada sepupu perempuan
namanya Kiki dan orangtuanya, orangtuaku, kakak dari ibu, teh Ritha juga ada
disana untuk menyemangatiku. Rasanya tenang sekali sore itu, tapi itu mungkin
bukan setenang yang ada dipikiranku saat itu.
Akhirnya pembayaran administrasi
selesai, yang sebelumnya aku sudah cek beberapa kali sebelum hari ini tiba.
Dan, perawat pun datang memanggil namaku. “Pasien Rafa! Ayo segera ,masuk
ruangan.” Katanya seperti itu. Rasa cemas pun mulai menyelimutiku, rasa takut
mulai ada dibenakku. Sebelum aku masuk ruangan aku tak sengaja bercanda gurau
dengan Kiki walaupun hanya sebentar dan mungkin itu salah satu cara agar aku
tidak tegang.
Aku masuk ke dalam ruangan
dengan Ibu dan Uwa Nunung, Uwa Nunung ini adalah kakak iparnya ibu. Beliau ini amat
sangat sayang pada anak kecil, apalagi setelah ditinggal pergi oleh anak
terakhirnya yang bernama Hery. Kalau pun ada mungkin Hery akan sebesar anak SMP
sekarang. Perawat, ibu dan uwaku ini membantu aku untuk ganti baju dengan baju
khusus pasien. Lucu warnanya hijau, aku suka warna hijau soalnya ntah kenapa
rasanya tenang melihat warna hijau baju pasien ini. Setelah selesai berganti
baju, akhirnya aku berpisah dengan ibu dan uwaku ini. Uwa Nunung sempat berkata
“Jangan takut, jangan nangis Afa kan kuat!”. Itu kata-kata yang ku ingat
sebelum aku memasuki ruangan itu.
Aku pun berjalan maju melangkah, selangkah demi
selangkah ketakutan mulai menyapa benakku. Diluar aku melihat semuanya cemas
melihatku, tapi rasanya aku tak mau menangis karena aku anak yang kuat.
Diruangan itu semuanya sudah berpakaian warna hijau, dengan masker diwajahnya.
Aku tak tahu itu siapa, mungkin ini tak penting. Akhirnya, aku disuruh
berbaring diatas tempat tidur dengan banyak lampu disana. Rasanya silau sekali
melihat banyak lampu disekitarku, disampingku ada sebuah tabung besar dengan
respirator oksigen. Tiba-tiba datanglah seseorang lelaki, ntahlah itu seorang
dokter atau perawat yang membawa suntikan. Dan ia berkata kepadaku, “Tangannya
lemaskan ya! Jangan tegang supaya nggak sakit.” Aku hanya mengangguk saja.
Akhirnya suntikan itu menyuntik pergelangan tanganku, dan dikedua kakiku. Lalu,
aku pun disuruh memakai respirator. Awalnya aku menolak kataku “itu bau gas,
nggak mau.” Tetapi, tak lama setelah aku memakainya aku tak ingat lagi apa yang
terjadi. Rasanya aku bermimpi sangat panjang sekali, ntah berapa lama sampai
akhirnya…
Aku terbangun ketika operasi
yang kujalani belum selesai, semua yang ada didalam ruangan itu panic melihat
bius yang disuntikan kepadaku sudah habis. Awalnya aku tak merasakan apa-apa,
tetapi rasanya badanku pun merasakan semuanya itu. Rasa sakit, rasa sedih, rasa
takut, semuanya menjadi satu. Pada saat itu aku hanya bisa menangis menahan
semua rasa itu. Sampai aku di pindahkan ke ruang rawat inap pasien, tetap saja
rasanya masih terasa. Keluargaku yang sudah menunggu sedari tadi segera melihat
keadaanku yang sedang menangis, semuanya menghiburku. Tapi, tak satupun ku
hiraukan. Aku sempat berpikir “apa mereka nggak sadar ya? Aku disini
kesakitan!”. Kata ibuku ketika itu, ayahku pingsan melihat keadaanku. Andai
saja aku bisa melihatnya aku pasti tertawa geli hahaha. Tapi aku tak tahu
kejadian apa setelah itu, kata ibu aku diberi obat bius dan akhirnya aku
tertidur dan ketika aku bangun aku sudah berada dikamarku.
Aku bersyukur sekali atas apa
yang telah aku alami, aku masih diberi nyawa dan masih dibiarkan untuk hidup.
Rasanya ini kesempatanku yang kedua untuk hidup. Dan akhirnya dokter
mendiagnosa bahwa operasi yang kemarin aku alami itu gagal, jadi aku haruis
menjalani operasi yang kedua. Operasi yang kedua diadakan sekitar bulan Agustus
waktu itu aku baru masuk sekolah SD, dan Alhamdulillah operasi yang kedua ini
berjalan lancer dan sukses.
So, dari cerita aku tadi bisa
nyimpulinkan? Hidup itu harus dijalani, jangan dibawa beban. Karena nggak semua
orang dapet kesempatan kedua! TRIMS.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar